Categories: BERITA UTAMA

Jelang Pilkada, TNI-Polri Jangan Gegabah!

  Secara terpisah, Pemerhati Pendidikan, Samuel Tabuni mendorong pembentukan tim dan dilakukan investigasi terkait penembakan tiga orang di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya pada Selasa (16/7).

Menurut Samuel, investigasi tersebut untuk kepentingan pelayanan pemerintahan dan keamanan warga khusus di Mulia dan tanah Papua, pasca kasus penembakan.

  “Dua klaim yang membingungkan publik, aparat pertahankan mereka yang tertembak adalah anggota OPM yang pantas dibunuh. Sementara mayoritas warga pertahankan mereka bukan anggota OPM. Ini menyebabkan terciptanya akar konflik, saling tidak percaya antar pimpinan lembaga negara dan masyarakat di Mulia,” kata Samuel, dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Jumat ( 19/7)

  Menurutnya, daerah Puncak Jaya sejak Bupati Yuni Wonda memimpin sudah dianggap aman dan tidak ada kontak tembak di antara aparat keamanan dan OPM. “Tidak ada keseriusan mengungkap kebenaran pasti akan ada aksi balas dendam dan konflik akan terjadi di Mulia seperti tahun tahun sebelumnya,” ucapnya.

  “Ada ancaman dan potensi konflik yang sangat serius di Mulia dan sekitarnya, sebab hampir semua masyarakat di Mulia merasa kehilangan atas ketiga orang yang tembak,” sambungnya.

  Sementara itu, Kepala Komnas HAM Papua, Frits Ramandey menyampaikan jika pihaknya lakukan pemantauan proaktif, termasuk mendengarkan testimoni sejumlah tokoh yang ada di Puncak Jaya.

  Disampaikan Frits, Puncak Jaya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir menjadi daerah yang kondusif dari kelompok sipil bersenjata. Hal ini tidak terlepas sewaktu Yuni Wonda menjadi bupati yang kerap melakukan pendekatan.

  “Dengan penembakan tiga warga sipil ini, menjadi triger kekacauan akan muncul dari berbagai aktivitas kelompok sipil bersenjata yang baru,” kata Frits.

  Kata Frits, adanya saling klaim status dari tiga orang yang ditembak tersebut. Dimana Kodam mengeluarkan pernyataan bahwa mereka bagian dari kelompok sipil bersenjata, namun argumen dari masyarakat sebagaimana testimoni yang beredar bahwa tiga orang tersebut merupakan sipil dengan jabatan   yang ada di kampung.

  “Terkait dengan status ketiga orang yang ditembak butuh penegasan dari bupati, apakah mereka ini benar aparat kampung, sehingga jelas statusnya,” ujarnya.

  “Jika mereka adalah aparat kampung dan tidak membawa senjata,lantas kenapa bisa ditembak, ini juga perlu penjelasan lebih detail dari Satgas 753. Mengapa tiga orang ini ditembak mati sementara mereka tidak sedang mengambil senjata atau sedang tidak melakukan perlawanan/saling kontak tembak saat itu,” sambungnya.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Recent Posts

Pembegal  IRT di Merauke Berhasil DitangkapPembegal  IRT di Merauke Berhasil Ditangkap

Pembegal  IRT di Merauke Berhasil Ditangkap

Kapolres Merauke AKBP Leonardo Yoga melalui  Kaur Bin Ops Satreskrim Polres Merauke, Ipda Stevend Dapo,…

14 hours ago

KPU Papua Pegunungan Tetapkan 1.318.344 Pemilih Dalam PDPB Semester I

Koordinator Devisi Perencanaan, Data dan Informasi KPU Provinsi Papua Pegunungan Naftali Emmanuel Pawika mengatakan rekapitulasi…

15 hours ago

Perkuat Sistem Perlindungan dan Kejar Target Pemenuhan Hak Anak

Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Papua Barat Daya, Atika Rafika yang dalam hal…

16 hours ago

Pemkab Jayawijaya Lakukan Pendataan untuk Seluruh Guru Honorer

Bupati Jayawijaya Atenius Murib, SH, MH sebelum pertemuan ini, pihaknya telah meminta kepada kepala dinas…

17 hours ago

Asosiasi 328 Kepala Kampung Pastikan Tak Ikut Aksi Demo Ke Kantor Bupati

Sekretaris Asosiasi 328 Kepala Kampung Se Jayawijaya Sem Uaga menegaskan jika menyikapi adanya informas yang…

18 hours ago

Dua Anggota KKB Terancam Hukuman Seumur Hidup

Kedua tersangka masing-masing berinisial EK dan RS. Tersangka EK diduga terlibat dalam kasus pembunuhan terhadap…

19 hours ago