Categories: BERITA UTAMA

Gubernur Enembe Rencana Tarik Mahasiswa

TERIMA DEMO: Gubernur Papua, Lukas Enembe, SIP., MH., saat ribuan warga Papua yang melakukan aksi demo damai di halaman kantor Gubernur Papua, Senin (19/8). Gubernur Papua Lukas Enembe akan memulangkan mahasiswa Papua di Pulau Jawa apabila mereka merasa tidak aman.  ( FOTO : Dian Mustikawati for Cepos)

Lukas Enembe: Kalau Mahasiswa Rasa Tidak Aman di Sana, Saya Tarik Semua

JAYAPURA- Menyikapi tindakan rasisme yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, Gubernur Papua, Lukas Enembe, SIP., MH., mengaku telah berkomunikasi dengan Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, secara khusus terkait rencana memulangkan dan menampung mahasiSwa Papua dari Surabaya dan Malang untuk studi di Universitas Papua (Unipa) Manokwari dan Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura.

“Saya sudah kontak Gubernur Papua Barat. Saya undang ke sini (Jayapura) untuk bahas soal ini. Dalam hal ini, untuk bicara menampung mahasiswa yang kita tarik untuk studi di Unipa dan Uncen. Mereka (mahasiswa) tidak boleh hidup di daerah dengan tingkat ancaman dan rasisme yang tinggi,” ungkap Gubernur Enembe  kepada wartawan saat ditemui di Gedung Negara, Selasa (20/8) kemarin.

Gubernur Enembe menyebutkan bahwa rasisme merupakan persoalan paling berbahaya di dunia, yang mana kini tengah dihadapi masyarakat Papua. Namun, menurutnya, ini bukan kali pertama, melainkan sudah sejak masa almarhum J.P Solossa (mantan Gubernur Papua). Tindakan rasisme pun tak jarang diterima para pesepak bola yang berasal dari Papua.

“Tim terpadu dibentuk untuk dikirim ke Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Kalau mahasiswa rasa tidak aman di sana, saya tarik semua. Saya juga komunikasi dengan Menkopolhukam dan Presiden tidak bisa sederhanakan masalah ini. Ini sudah masalah rumit, dimana rasisme yang merupakan persoalan paling berbahaya di dunia dan bertahun-tahun dialami mahasiswa Papua di Jawa. Kalau masih terjadi rasisme, saya pasti tarik semua mahasiswa,” tambahnya.

Gubernur Enembe menyesalkan tindakan rasisme yang terjadi, terlebih Indonesia yang sudah menginjak usia ke-74 dan berpegang pada Bhinneka Tunggal Ika. “Sudah 74 tahun merdeka, Bhinneka Tunggal Ika, tapi masih ada rasisme? Tidak bisa menyederhanakan masalah orang Papua. Sebab, kita juga memiliki martabat dan harga diri. Masalah bendera itu pelakunya harus ditangkap,” pungkasnya. (gr/nat)

newsportal

Recent Posts

OPD Diingatkan Jangan Kerja Ketika Injury Time

Ia menargetkan seluruh kegiatan dan program dapat terealisasi hampir seluruhnya sebelum memasuki akhir tahun. Bahkan,…

1 day ago

Selecao Wajib Waspadai Singa Atlas

Timnas Brasil akan menghadapi Timnas Maroko pada laga perdana Grup C Piala Dunia 2026 di…

1 day ago

Gunakan Sebo Buff, Delapan Anggota OPM Cium Merah Putih

Delapan orang yang disebut sebagai anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Kodap…

1 day ago

Disosialisasikan, Rencana Pembangunan Bandar Antariksa Mendapat Dukungan

Selain itu, juga disepakati hasil sosialisasi ini akan ditindaklanjuti dalam penantanganan nota kesepahaman antara masyarakat…

1 day ago

Pendistribusian BBM Diawasi Polisi

Publik juga khawatir dari kenaikan ini justru ada upaya mencari keuntungan sepihak termasuk menerapkan cara-cara…

1 day ago

Belum Ada Razia Lagi, Kendaraan Modifikasi Tangki Kembali Ikut Antrian Pengisian BBM

Pengelola APMS Lasminingsih dan Anwarudin Wamena, Suyono mengaku sebenarnya kalau dikatakan pembiaran itu tidak, sebab…

1 day ago