Menurut Frits, tidak ada upaya lain kecuali mengajak mereka (kelompok sipil bersenjata) untuk berdialog dan menghentikan operasi seporadis yang dilakukan TNI di Papua. Sebab Papua merupakan daerah rawan konflik. Karena itu sambung Frits, operasi penegakan hukum harus dikendalikan oleh polisi, sedangkan TNI diminta untuk tidak melakukan operasi semi tempur yang dikhawatirkan menimbulkan korban baru.
”TNI cukup memberi perbantuan perkuatan kepada Polri, sehingga operasi di daerah konflik bisa terukur. Dan seluruh operasi di Papua harus dikendalikan oleh Kapolda dan Pangdam, jangan ada intervensi dari Kogabwilhan. Hal ini untuk menghindari salah tembak ke warga sipil, adanya korban baru baik harta benda maupun manusia,” ungkapnya.
Frits juga mendesak dilakukannya upaya dialog kemanusian. Ia menilai upaya percepatan pembangunan sudah berjalan, namun terhalang karena kekersan terus berlanjut di Papua. Sehingga yang dibutuhkan saat ini adalah penyelesaian konflik sehingga percepatan pembangunan bisa berjalan secara baik. (fia/ade).
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Kehadiran Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dalam kegiatan Latihan Kader Kepemimpinan (LKK) tahun 2026 yang…
Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Papua melalui Bidang Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam menyatakan bahwa hingga saat…
Pengungkapan kasus tersebut bermula dari laporan masyarakat terkait hilangnya sejumlah kendaraan bermotor dengan modus pelaku…
ali Kota Jayapura, Abisai Rollo menegaskan pentingnya penataan administrasi kependudukan di wilayah Distrik Muara Tami…
Bupati Thomas mengatakan, kehadiran gubernur dalam peresmian Rumah Jew merupakan penghormatan lantaran itu kesempatan langkah.…
Rapat tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari upaya penegasan batas daerah antara Kabupaten Jayapura dan Kabupaten…