Menurut Frits, tidak ada upaya lain kecuali mengajak mereka (kelompok sipil bersenjata) untuk berdialog dan menghentikan operasi seporadis yang dilakukan TNI di Papua. Sebab Papua merupakan daerah rawan konflik. Karena itu sambung Frits, operasi penegakan hukum harus dikendalikan oleh polisi, sedangkan TNI diminta untuk tidak melakukan operasi semi tempur yang dikhawatirkan menimbulkan korban baru.
”TNI cukup memberi perbantuan perkuatan kepada Polri, sehingga operasi di daerah konflik bisa terukur. Dan seluruh operasi di Papua harus dikendalikan oleh Kapolda dan Pangdam, jangan ada intervensi dari Kogabwilhan. Hal ini untuk menghindari salah tembak ke warga sipil, adanya korban baru baik harta benda maupun manusia,” ungkapnya.
Frits juga mendesak dilakukannya upaya dialog kemanusian. Ia menilai upaya percepatan pembangunan sudah berjalan, namun terhalang karena kekersan terus berlanjut di Papua. Sehingga yang dibutuhkan saat ini adalah penyelesaian konflik sehingga percepatan pembangunan bisa berjalan secara baik. (fia/ade).
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Pelantikan tersebut dilaksanakan setelah tiga bulan masa pemerintahan Gubernur dan Wakil Gubernur Papua pasca dilantik…
“Banyak anak di Papua menghadapi hambatan, bukan hanya soal jarak sekolah, tetapi kondisi ekonomi keluarga.…
Mesin menderu pelan, membelah air tenang menuju Kampung Enggros, sebuah pemukiman unik yang berdiri di…
Dari 139 Kampung dan kelurahan di Kabupaten Jayapura, ternyata masih ada kampung yang berada di…
Ketua Tim Kerja Pengawasan Faktor Risiko Kesehatan Orang BKK Jayapura, dr. Danur Widura, menyatakan bahwa…
Kondisi ini menurutnya tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan bagi para pengendara, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan…