Categories: BERITA UTAMA

Suara Pecah, Golkar Disarankan Ganti Jagoan

JAYAPURA-Polemik soal kursi Wakil Gubernur Papua oleh DPP Partai Politik pengusung Lukas Enembe – Klemen Tinal di Pilgub Papua tahun 2018 hingga kini masih belum memunculkan dua nama yang akan masuk dalam paripurna DPR Papua.

   Ketua Tim Koalisi, Mathius Awoitau beberapa waktu lalu menyampaikan bahwa tugas koalisi adalah mengakomodir nama-nama yang diusulkan oleh partai kemudian kandidat tersebut membangun komunikasi dengan partai di pusat termasuk pemerintah pusat.

  Namun kondisi ini akan semakin sulit jika dalam internal partai sendiri tidak satu suara mengusung calonnya. Ini yang disebut akan menghambat. “Saya agak heran saja mengapa selama ini. Mengapa proses di DPRP hingga kini belum ada yang diparipurnakan  dan pertanyaan lainnya adalah sebenarnya proses ini bisa tidak jalan atau justru stagnan?,” ujar salah satu akademisi Uncen, Marinus Yaung melalui ponselnya, Rabu (9/3).

  Yaung   yang memantau perkembangan Pilgub ini melihat bahwa satu persoalan saat ini adalah berkaitan di di internal DPD Golkar Papua. Nama Paulus Waterpauw (PW) yang bukan kader Golkar ditetapkan pengurus DPP Partai Golkar untuk menduduki kursi Wagub dan ini ternyata tidak sepenuhnya didukung kader Golkar di DPR Papua.

   Rekomendasi PW oleh DPP Partai Golkar tidak didukung penuh oleh semua kader Golkar di Papua. Kata Yaung, di depan para kader ini setuju, namun di belakang justru menolak.  Dengan situasi internal seperti inilah membuat proses paripurna di DPRP Papua stagnan.

   Lalu selain terjadinya pecah suara dalam internal partai, perihal kedua menurut Yaung adalah Gubernur Lukas Enembe tidak setuju jika  sosok itu adalah Paulus Waterpauw. Nah Yaung berpendapat bahwa dengan dukungan legitimasi yang kuat dari rakyat Papua terhadap Lukas Enembe, maka akan sulit bagi PW bisa duduki kursi Wagub.

   “Disamping itu, mayoritas anggota DPRP Papua itu adalah para loyalis Lukas Enembe  dan dalam pikiran mereka, DPRP Papua adalah salah satu OPD dari struktur birokrasi Pemda Provinsi Papua,” sindir Marinus Yaung.

   Iapun menengahi bahwa untuk mengatasi masalah stagnan atau kemandegan proses politik kursi Wagub Papua, dirinya menawarkan solusi agar Golkar mengganti kadernya yang bisa diterima oleh Gubernur Enembe.

   “Saya mengajukan dua nama, John Tabo dan Yansen Tinal. Dua nama yang menurut hemat saya, bisa bekerja mendukung Gubernur Lukas Enembe dan ini harus cepat diputuskan karena jika masih menunggu, maka bisa saja hingga 2024 nanti Papua tetap berjalan tanpa ada wakil gubernur. Lukas Enembe bisa memimpin seorang diri padahal beliau pasti memerlukan bantuan sosok wakil,” tutup Yaung. (ade/tri)

newsportal

Share
Published by
newsportal
Tags: PAPUA

Recent Posts

Dana Otsus Bukan untuk Operasional dan Belanja Kantor!

Gubernur Papua Pegunungan Dr. (HC) Jhon Tabo, SE, M.B.A menyatakan penggunaan dana otsus saat ini…

1 day ago

Bupati Keerom Minta Distrik Bersih dan Aman jelang Puncak HUT RI

Fokus utama arahan tersebut adalah menjaga keamanan, kebersihan, serta kedisiplinan jajaran pemerintahan distrik dalam melayani…

1 day ago

Kapolres Merauke: Jangan Sampai Kejadian di Puncak Terjadi di Merauke

Leonardo mengatakan, kejadian tersebut menjadi perhatian bersama karena menimbulkan kerugian. Karena itu, berbagai potensi persoalan…

1 day ago

Ini Alasan Fatal Mengapa Bendera Merah Putih Haram Menyentuh Tanah!

Pengibaran Bendera Merah Putih menjadi salah satu bagian paling dinantikan dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan.…

1 day ago

Potensi Besar di Sektor Retribusi, Tapi Terbentur Kepentingan Masyarakat Adat

   Car Free Day (CFD) yang digelar setiap Sabtu tersebut kini menjadi salah satu ruang…

1 day ago

Meriahkan HUT RI, Joged Veronika dan Yospan Asaibori di Mandala

  Salah satu atraksi yang akan menjadi perhatian dalam peringatan HUT ke-81 RI tahun ini…

1 day ago