Ia menilai buku tersebut penting karena tidak hanya merekam peristiwa masa lalu, tetapi juga membawa pesan moral bagi aktivis mahasiswa saat ini. Frits kemudian membandingkan gerakan mahasiswa 1998 dengan aksi mahasiswa yang berlangsung saat ini. Menurutnya, gerakan 1998 tumbuh dari solidaritas masyarakat dan tidak bergantung pada dukungan pihak tertentu.
Ia mengenang, aksi mahasiswa kala itu dilakukan dengan spanduk dan tulisan tangan. Di tengah aksi, masyarakat tetap membuka kios dan berjualan. Bahkan, sebagian warga memberikan air minum kepada peserta aksi. “Kita berharap kawan-kawan yang sekarang mengaku sebagai aktivis jangan sampai by order. Dan karena dia sudah by order maka memecah persatuan gerakan aktivis dan itu yang sangat membahayakan masyarakat dan kepentingan publik,” pungkasnya. (fia/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Beban moril dipikul punggawa Persipura pada laga menjamu PSBS Biak di Stadion Sriwedari, Solo, pada…
Dalam kurun waktu 9 bulan, Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III berhasil menangkap 22 orang…
Melihat botol miras di atas meja, korban kemudian menegur dan merekam sebagai bahan pemberitaan. Aksi…
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol. Yusuf Sutejo, menyebut penangkapan ini sebagai pengembangan kasus…
Banyak orang menganggap nasi panas dan nasi dingin hanya berbeda pada suhu. Padahal, proses pendinginan…
Pemusnahan yang dipimpin langsung oleh Hendra Wijaya, SH.,MH dihadiri langsung oleh sejumlah pejabat dari sejumlah…