

Komnas HAM dan Pembela HAM menyambangi pengungsi yang ada di Kampung Sekom, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya awal Mei lalu. (foto: Komnas HAM untuk Cenderawasih Pos)
Enam Tahun Pengungsi Nduga di Jayawijaya
JAYAPURA – 1000-an orang asal Nduga, Provinsi Papua Pegunungan, telah mengungsi selama hampir enam tahun tanpa tahu kapan bisa pulang di kampung asalnya itu. Kepala Komnas HAM Papua, Frits Ramandey, mengatakan seribuan pengungsi Nduga itu sedang berada di Kampung Sekom, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya sejak tahun 2019 pasca konflik bersenjata di wilayah mereka.
“Saya bersama teman teman pembela HAM pada 4 Mei lalu mendatangi lokasi pengungsian yang ada di Sekom, kunjungan kami untuk melihat kondisi masyarakat yang ada si sana selanjutnya apa yang perlu dilakukan oleh pemerintah setempat,” ucap Frits saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos.
Menurut Frits, hampir enam tahun masyarakat Nduga mengungsi di sekitar Wamena pasca konflik bersenjata yang ada di daerah mereka. Dengan demikian, harus ada yang dilakukan pemerintah dalam rangka pemenuhan hak hak mereka sebagai pengungsi.
“Mereka ini keluar dari tanah kelahirannya akibat adanya konflik yang berkepanjangan dan tak pernah usai,” kata Frits.
Lanjut Frits, beberapa diantara mereka sudah membangun honai dan rumah semi permanen di Kampung Sekom.
Terkait pengungsi Nduga yang ada Jayawijaya, Frits meminta pemerintah setempat perlu memperhatikan kebutuhan mendesak dari warga. Seperti membangun sekolah darurat di lokasi tersebut.
“Perlunya dibangun sekolah darurat di sana, sebab dua hingga tiga tahun kedepan pengungsi belum bisa kembali ke daerahnya akibat situasi konflik yang berkepanjangan,” ujarnya.
Selain itu, perlunya dibangun pusat pelayanan kesehatan sementara dan MCK. Dengan begitu, para pengungsi bisa beraktivitas dan untuk menghindari potensi adanya wabah di kemudian hari.
“Kondisi mereka secara fisik aktivitasnya berjalan secara baik, kalau dilihat secara sepintas mereka sudah berkebun dengan menggunakan tanah tanah milik warga tertentu,” kata Frits.
Frits menyampaikan jika sudah ada komunikasi antara Pemerintah Nduga dan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, terkait dengan pengungsi Nduga yang saat ini berada di Kabupaten Jayawijaya.
“Para pengungsi ingin sekali pulang ke kampung halamannya di Nduga, hanya saja situasi konflik yang masih berkepanjangan di sana. Sehingga itu, mereka memilih mengamankan diri di Jayawijaya,” ujarnya.
Sekadar diketahui, rentetan konflik bersenjata terjadi di Nduga pada tahun 2018. Saat itu, terjadi penyerangan di Distrik Kenyam, yang menewaskan tiga orang. Lalu diikuti penembakan dua pesawat Trigana, hingga akhirnya mencapai puncak saat belasan pekerja PT Istaka Karya yang mengerjakan proyek Trans Papua di Gunung Kabo, dibunuh pada akhir tahun 2018.
Atas peristiwa itu, pemerintah merespons pembunuhan itu dengan melakukan operasi militer. Pasukan keamanan gabungan dikerahkan untuk mengejar para pelaku yang berasal dari TPNPB-OPM.
Warga Nduga yang ketakutan saat itu, selain mengungsi ke Jayawijaya ada juga yang mengungsi ke Lanny Jaya, Timika, Yahukimo, Nabire dan wilayah lainnya di tanah Papua. (fia/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri menyebut efisiensi anggaran bagi pemerintah daerah masih berlanjut pada 2027. Para…
Merespon terkait dengan itu, Pengamat Kebijakan Publik Papua, Dr. Methodius Kossay, menyatakan bahwa tindakan suspend…
Penegasan tersebut disampaikan menyusul adanya pernyataan dari kelompok yang mengatasnamakan TPNPB yang mengancam akan menggagalkan…
Fakhiri mengatakan, kejadian serupa sebenarnya pernah terjadi di sejumlah daerah. Namun, khusus untuk Papua,…
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan posisi utang pemerintah sebesar Rp10.000 triliun hingga pertengahan 2026 masih terkendali…
Gubernur Papua Pegunungan Dr. (HC) Jhon Tabo, SE, M.B.A menyatakan penggunaan dana otsus saat ini…