Linus mengungkapkan bahwa tingginya kasus ini berbanding lurus dengan cakupan imunisasi yang belum mencapai target. Beberapa faktor penghambat di lapangan meliputi mobilitas penduduk di mana orang tua yang berpindah domisili atau pulang kampung tanpa melapor ke Puskesmas. Kemudian, kesulitan komunikasi akibat orang tua sering mengganti nomor telepon sehingga sulit dihubungi petugas, serta ketidakpatuhan jadwal yang menyebabkan banyak balita tidak kembali ke Posyandu setelah mendapatkan imunisasi dasar pertama.
”Hal ini menyebabkan data di Puskesmas mencatat cakupan imunisasi tidak lengkap, padahal keberadaan anak tersebut sudah tidak terlacak oleh petugas kami,” jelasnya. Untuk mengendalikan situasi, Dinkes Mimika bersama seluruh Fasilitas Kesehatan (Faskes) dan Puskesmas meluncurkan Program Imunisasi Kejar.
Strategi ini menyasar anak usia 1 tahun hingga 59 bulan yang belum mendapatkan dosis lengkap. “Imunisasi Kejar adalah pemberian vaksin di luar jadwal rutin. Fokus utama kami memang campak karena kasusnya naik, namun petugas di lapangan juga tetap melengkapi antigen atau jenis imunisasi lain yang masih kurang pada anak tersebut,” tutur Linus.
dr. Beeri I.S. Wopari, M.Kes., mengatakan data tersebut mencakup warga yang mendapat pelayanan kesehatan, baik…
Ribuan objek yang berhasil dipulangkan mencakup, sekitar 1.000 unit artefak kehidupan sehari-hari dan ritual,…
Ia mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Kabupaten Jayapura, tenaga kesehatan, TNI-Polri, serta masyarakat yang bergerak menangani…
Aksi pembakaran ban dan penutupan jalan dengan batang kayu ini dilakukan sebagai bentuk protes keras…
Rama mengatakan BGN akan melakukan evaluasi total terhadap pelaksanaan MBG menyusul dua kejadian dugaan keracunan…
Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kementerian Transmigrasi (Kementrans) bersama Pemerintah Provinsi Papua Selatan…