

Pembacaan pernyataan sikap dalam mimbar bebas yang dilakukan di Sekretariat KNPB di Kampwolker Waena, Rabu (30/9) ((Lety For Cepos)
KNPB Desak Dilakukan Perundingan Internasional
JAYAPURA – Badan Pengurus Pusat Komite Nasional Papua Barat (BPP-KNPB) menyuarakan kritik tajam terkait kondisi krisis kemanusiaan dan eskalasi militerisme yang terus membayangi wilayah Papua.
Bertepatan dengan peringatan momen bersejarah Perjanjian Roma, yang jatuh, 30 September setiap tahunnya, pihak KNPB menilai bahwa rangkaian diplomasis politik internasional pada awal tahun 1960-an telah secara sepihak mengabaikan hak-hak mendasar masyarakat Papua sebagai pemilik sah atas tanah airnya.
Juru Bicara Nasional KNPB, Orgam Wanimbo, menjelaskan bahwa rilis resmi yang ditandatangani langsung oleh Ketua Umum BPP-KNPB Agus Kossay tersebut menguraikan cacat sejarah mendasar dalam Perjanjian Roma tertanggal 30 September 1962 maupun New York Agreement yang ditandatangani pada 15 Agustus 1962.
Menurut Orgam, kedua kesepakatan antara Indonesia, Belanda, dan Amerika Serikat di bawah koordinasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut berlangsung secara tertutup tanpa pernah melibatkan perwakilan masyarakat Papua sebagai subjek hukum internasional yang sah.
”Kedua perjanjian internasional tersebut dibuat secara sepihak untuk memperkuat pendudukan ilegal serta mengamankan investasi ekonomi para pihak terkait. Mekanisme penentuan nasib sendiri (self-determination) yang seharusnya mengusung prinsip satu orang satu suara (One Man One Vote) sesuai standar hukum internasional telah dimanipulasi secara sistematis melalui pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969 yang dipenuhi teror, intimidasi, dan pelanggaran hak asasi manusia berat,” tegas Orgam saat menggelar kegiatan Mimbar bebas di Perumnas lll, Waena, Rabu (30/9).
Tim pelatih berupaya menjaga momentum positif usai meraih kemenangan 3-1 atas De Red FC pada…
Ketua Asosiasi Futsal Provinsi (AFP) Papua, Daud Arim, menjelaskan bahwa penundaan ini dilakukan untuk memberikan…
Disisi lain, suhu udara dingin yang menusuk tulang dan keterbatasan akses jaringan komunikasi kerap menjadi…
Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jayapura mengelola dana Otonomi Khusus (Otsus) sebesar Rp2 miliar pada 2026.…
Kepala BGN Papua Pegunungan Wahyu Adi Pratama menngakui jika untuk penyaluran MBG ke sekolah -sekolah…
Kepala BGN Papua Pegunungan Wahyu Adi Pratama menyatakan aktivasi ini diberikan kepada setiap SPPG yang…