

Babinsa Kodim 1702/ Jayawijaya merangkul masyarakat untuk melakukan kerja bakti di wilayah teritorial Kodim 1702/ Jayawijaya. (foto: dok Kodim 1702 / Jayawijaya)
Bincang-bincang dengan Sertu Sutisman Babinsa di Kodim 1702/ Jayawijaya
Peran sebagai Babinsa cukup berat. Dia harus merangkul semua pihak, pandai menempatkan diri serta menjadi garda terdepan TNI di tengah masyarakat.
Laporan Denny Tonjauw-Wamena
Tugas menjaga keamanan di Wamena memiliki dinamika yang sangat khas dan kompleks. Tantangan geografis menjadi ujian fisik utama yang harus dihadapi setiap hari. Medan berbatu, tanjakan curam, rawa- rawa, serta jalur perbukitan yang kerap berlumpur setelah diguyur hujan deras harus dilalui dengan berjalan kaki demi menjangkau kampung-kampung terpencil.
Disisi lain, suhu udara dingin yang menusuk tulang dan keterbatasan akses jaringan komunikasi kerap menjadi teman setia dalam setiap patroli. Selain itu, kerentanan sosial berupa potensi gesekan antarwilayah atau kesalahpahaman antara masyarakat menuntut kepekaan ekstra agar situasi tetap kondusif.
Namun, di tengah berbagai kesulitan tersebut, ada kebahagiaan yang dirasakan ketika kehadiran mereka diterima dengan hangat oleh para tokoh adat, kepala suku, dan masyarakat setempat.
Babinsa dari Kodim 1702/ Jayawijaya Sertu Sutisman yang telah berhasil mendapatkan kepercayaan masyarakat yang bertumbuh bukan melalui pendekatan kekerasan, melainkan lewat interaksi sosial yang tulus.
Babinsa di Wamena kerap terlibat langsung dalam kehidupan sehari-hari warga, mulai dari membantu mengolah kebun ubi, mengajar anak-anak di sekolah darurat, hingga mendampingi tenaga kesehatan saat memberikan pelayanan medis di pelosok.
”Momen kebersamaan saat duduk melingkar dalam acara tradisi bakar batu atau sekadar menyantap ubi bakar bersama warga menjadi pemandangan yang menghangatkan suasana.” ungkapnya Selasa (6/10) di Wamena.
Bertugas di pedalaman Wamena menuntut ketahanan fisik dan mental yang luar biasa. Akses antarwilayah sering kali hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki melintasi jalur perbukitan yang terjal, menyeberangi sungai deras tanpa jembatan permanen, atau mengandalkan penerbangan perintis yang sangat bergantung pada kondisi cuaca.
“Tantangan utama tidak hanya datang dari kondisi geografis, kerentanan terhadap gesekan sosial, potensi konflik antarkelompok, hingga isu keamanan kawasan menuntut kewaspadaan tinggi secara terus-menerus.”kata Sertu Sutisman.
Sebagai aparatur teritorial di Wamena, menjaga keamanan tidak dapat dilakukan sebatas patroli fisik atau penegakan aturan formal. Kunci utama keberhasilan tugas terletak pada kemampuan memahami struktur sosial dan kearifan lokal setempat.
Page: 1 2
Ketua MRP, Nerlince Wamuar, mengatakan dari pertemuan itu ada sejumlah persoalan yang disampaikan langsung…
Gubernur Papua Pegunungan Dr (HC) John Tabo, SE, M.B.A menyatakan pemerintah daerah sebelumnya telah melakukan…
Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo mengatakan, kondisi kekeringan yang dipengaruhi fenomena El Niño meningkatkan kerawanan…
Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Jayawijaya, Melke Mentang, S.H. menyatakan pemeriksaan fisik ini dilakukan untuk memastikan…
Kapolres Mimika, AKBP Alfredo A. Rumbiak, menyatakan aparat keamanan terus mengawal situasi di lapangan agar…
Pelatihan ini digagas oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Keerom dan melibatkan operator…