Saat ribut itu diduga korban sempat memukul ayahnya sehingga sang ayah emosi dan menombak korban. Korban disebutkan tewas usai terkena tombak.
“Sempat terjadi baku pukul dulu,” sambung Vicky. Hanya sayangnya ketika berita ini dikonfirmasi ke pihak kepolisian hingga berita ini ditulis belum mendapat respon. Namun foto-foto korban yang bersimbah darah sudah beredar lebih dulu di media sosial.


Sementara sentral berkumpulnya warga di Kota Jayapura ternyata mengambil lokasi di Jempata Yotefa hingga Pantai Holtekamp.
Masyarakat berkumpul mulai pukul 21.00 WIT dan memenuhi badan jembatan hingga tetjadi kemacetan yang mengular. Puluhan polisi dikerahkan untuk memperlancar laju kendaraan dan melakukan pengamanan di sepanjang jembatan. Namun dibalik keindahan dan keseruannya pesta malam tahun baru ternyata menyisakan banyak sampah dimana-mana.
Asap tebal putih pekat dan aroma tak sedap dihirup warga secara tidak langsung disetiap sudut Kota pada puncak malam pergantian tahun. Ternyata menyimpan amarah dari segelintir orang yang tidak suka dengan aroma dan kembang api. Karena secara tidak langsung setiap letupan kembang api yang menawarkan keindahan di langit namun membuat polusi udara.
“Bukannya tidak suka, ini juga sudah menjadi tradisi setiap pergantian tahun. Tetapi sangat disayang, oknum orang justru membuang sampah sembarang tempat. Tindakan seperti ini turut menyumbangkan sampah di Kota Jayapura,” kata Ali, rga Kota Jayapura.
Ketua Rumah Bakau Jayapura, Rahmatullah juga menutur serupa. “Agak disayangkan memang tapi itulah kebiasaan setiap tahun yang belum banyak berubah,” katanya.
Ia mengatakan pagi hari di 1 Januari kemarin ia dan komunitasnya melakukan Grebek Sampah awal tahun di Jembatan Yotefa. Rumah Bakau menemukan sampah sisa mercon besar sebanyak 800 buah, mercon kecil 230 buah dan kembang api 200 buah.
“Ini menjadi program tahunan kami dimana akhir tahun kami melakukan evaluasi sekaligus kampanye Akhir Tahun Tanpa Racun dan lebih memilih menanam pohon disaat udara dikotori kemudian paginya membersihkan sisa pesta dan hasilnya itu tadi,” beber Rahmatullah. Warga lain juga mengeluh.
“Tadi sempat sesak nafas, tetapi tidak terlalu karena cium bau asap kembang api. Alhamdulillah sudah menghilang setelah kumpulan asap mulai menghilang,” ungkap Fitri. Ia mengkawatirkan sisa-sisa kembang api menjadi sampah yang sulit terurai dan dapat mencemari lingkungan. Jadi tidak hanya mengotori udara tapi juga tanah bahkan air. (jim/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Papua selama ini dikenal sebagai tanah yang diberkahi kekayaan alam luar biasa. Hutan-hutannya rimbun, tanahnya…
Dalam rangka menyikapi situasi dan kondisi yang kerap terjadi di tanah Papua, dalam hal ini…
UNTUK pertama kalinya, Timnas Futsal Indonesia U-16 berhasil merengkuh gelar juara Piala AFF Futsal U-16…
Rencana pengiriman bantuan pangan ini disampaikan bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze setelah melakukan rapat dengan…
Di tengah kampung wisata yang berada di atas Danau Sentani ini, berdiri satu sekolah dasar,…
Plt Direktur RSUD Wamena dr. Charles Manalagi, Sp.OG mengakui jika apabila berbicara terkait penyakit TBC,…