Categories: METROPOLIS

Ada Kearifan Lokal yang Patut Dijaga dan Jadi Kebanggaan

JAYAPURA – Sebanyak 24 finalis puteri cilik dan remaja Papua yang mengikuti ajang pemilihan puteri cilik dan remaja di bawah Yayasan Quinn Hoop  Fundation mendapatkan pembekalan soal kondisi hutan mangrove di Taman Wisata Alam (TWA) Teluk Youtefa sekaligus mendengarkan isu terkini terkait ancaman yang sedang terjadi saat ini.

   Para peserta ini didampingi langsung oleh tiga koordinator Rumah Bakau Jayapura, Ezterlin Baransano, Muhammad Ikbal dan Meginaldo. Jamilah Aprilia, Ketua Yayasan Quinn Hoop Fundation dan Regional Direktor Papua mengatakan bahwa ada isu – isu kearifan lokal yang harus diketahui para puteri sebagai bekal yang bisa memboboti wawasan.

  Lokasi hutan bakau dipilih karena memiliki kaitan dengan sosial budaya masyarakat asli Port Numbay. Ada hutan perempuan yang perlu  dikenali dan dijaga. “Kami memilih  menggandeng Rumah Bakau karena kami melihat selama ini mereka konsisten. Selain itu lokasinya juga berada di lokasi Hutan Perempuan dan status inilah yang ingin kami kenalkan ke mereka. Mereka harus tahu dan bangga dengan keberadaan hutan perempuan ini,” jelas Jamilah Aprilia di Sekretariat Rumah Bakau Jayapura di Entrop, Ahad (29/5).

  Selain ingin mengangkat dan memperkenalkan soal kearifan lokal, Jamilah menyebut bahwa penting membekali para puteri ini dengan isu lingkungan. “Pada tahun 2019 lalu kami berhasil mendapatkan seorang puteri yang bisa membawa nama harum Jayapura karena dinobatkan sebagai Puteri Cilik Indonesia Lingkungan dan ada harapan bisa kembali menorehkan hasil serupa,” bebernya.

   Para finalis ini juga diajak untuk berkeliling hutan bakau didampingi Meginaldo. Sementara Ezterlin Baransano menjelaskan bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh seorang puteri dan sebagai koordinator Rumah Bakau, ia menitipkan untuk para puteri bisa  membantu menyuarakan soal kondisi terkini hutan bakau di Jayapura.

   “Ada banyak tekanan yang terjadi  di kawasan ini mulai dari penimbunan, sampah maupun limbah cair. Tidak bisa hanya komunitas saja yang menyuarakan tapi sebisa mungkin menjadi kepedulian semua pihak,” beber Ezter.

  Di sini mahasiswi Uncen ini menyampaikan bahwa manusia tidak mewarisi bumi dari nenek moyang melainkan meminjam dari anak cucu, sehingga harus ada tanggungjawab moril untuk mengembalikan dalam kondisi baik. Sementara satu finalis puteri remaja, Briat Patanduk Biring mengaku kagum karena melihat banyak hewan yang mendiami akar bakau.

  Ia menyimpulkan banyak makanan yang dihasilkan di tengah hutan bakau. Hanya disini ia juga prihatin karena ternyata ada sampah di sekitar akar – akar bakau. “Saya kagum ternyata pohon bakau memiliki banyak fungsi. Tidak hanya sebagai  filtrasi udara tetapi juga memberi makan pada banyak hewan yang hidup di hutan ini,” imbuhnya. (ade/tri)

newsportal

Recent Posts

Tak Perlu Lagi Ke Luar Daerah, RSUD Abepura Punya Alat Canggih Tangani Pneumoia

​Pneumonia atau yang kerap dikenal masyarakat awam sebagai paru-paru basah masih menjadi "pembunuh" nomor satu…

16 minutes ago

Terima Paket Ganja dari Jayapura, Seorang IRT Ditangkap

Seorang ibu rumah tangga (IRT) di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, berinisial EM alias L ditangkap…

47 minutes ago

Dikira Mata-mata, Seorang Pemuda Dibacok di Leher

Pihak Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap XVI Yahukimo mengklaim bertanggung jawab atas aksi…

1 hour ago

Disorda Libatkan Pihak Ketiga Kelola Eks Venue PON

Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Olahraga dan Pemuda (Disorda) menyiapkan skema kerja sama dengan pihak…

2 hours ago

Pelaku Penembakan Bripda Jhon Diduga Kelompok Ternus Enumbi

–Anggota personel Polsek Ilu, Polres Puncak Jaya, Bripda Jhon Galu Situmorang, mengalami luka tembak setelah…

2 hours ago

Bubarkan Masa di Jalan Bhayangkara Atas, Aparat Diserang

ksi penyerangan terhadap patroli besar dari Polres Jayawijaya sekaligus melakukan perusakan dan pembakaran terhadap beberapa…

3 hours ago