

Guru saat memberikan arahan kepada siswa SLB Negeri Pembina pada Jumat (17/1). (foto: Mboik/Cepos)
JAYAPURA-Sekolah Luar Biasa Negeri Pembina Papua yang berlokasi di Buper Waena merupakan salah satu sekolah unggulan khusus untuk siswa yang berkebutuhan khusus.
Sekolah ini dirancang agar lulusannya siap kerja. Karena itu, di sekolah tersebut sudah dilengkapi dengan bengkel kerja mulai dari, tata rias, kursus menjahit, tata boga, tata busana, kecantikan, kriya kayu, otomotif, asesor.
“Cuma kami kesulitan dengan bengkel-bengkel yang ada. Karena kami, tidak dibarengi dengan bantuan tenaga ahli,”kata kepala SLB Negeri Papua, Irwanyo Pairunan, Sabtu (18/1).
Selain itu pihaknya juga kekurangan biaya operasional. Adapun Dana Bantuan Operasional Sekolah atau dana BOS namun anggaran tersebut sangat terbatas. Dalam setahun mereka hanya mendapatkan 450 juta dana BOS. Sementara sekolah dengan kondisi yang ada atau kebutuhan yang ada saat ini membutuhkan biaya yang cukup tinggi.
“Kami biayai guru honor, listrik, keamanan, belum kebutuhan lain,”katanya.
Karena itu ketersediaan anggaran tersebut tidak mampu mensuport kebutuhan terkait dengan pengelolaan beberapa bengkel siswa di sekolah itu.
Lanjut dia, keberadaan SLB Pembina itu semestinya bisa memberikan kontribusi kepada SLB-SLB lain yang ada di tanah Papua. Secara keseluruhan di tanah Papua ada sekitar 7 SLB. SMP Negeri Pembina SLB Negeri 1 Jayapura, SLB Negeri Serui,SLB Negeri Uriware,SLB Negeri Saireri, SLB ABC Tunas Harapan Biak dan SLB Subiakifiadi Biak.
“Biasanya SLB Pembina itu semestinya kami menaungi sekolah-sekolah itu, kami juga semestinya menjadi sekolah pusat pelatihan dan pusat kegiatan. Tapi itulah dinas tidak berpikir untuk menjadi ke sana bagaimana menjadikan sekolah ini sebagai pusat pelatihan,”ujarnya.
Karena itu semestinya apabila sekolah tersebut sebagai pusat pelatihan dan kegiatan mestinya harus didukung dengan sarana dan prasarana yang menunjang.
Selain itu saat ini sekolah itu juga kesulitan guru. Dia mengakui peminat guru SLB di tanah Papua ini sangat kecil. “Di kami sini dari sekian banyak guru hanya satu yang asli Papua kemudian di Kotaraja tidak ada satupun guru Papua,”tambahnya.(roy/tri ).
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Terkait Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) ini, Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo menegaskan bahwa…
Kepala Kejaksaan Negeri Jayawijaya, Sunandar Pramono, SH, MH mengatakan dari 9 terdakwa kasus korupsi dana…
Kelompok Kerja (Pokja) Adat Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua mengaku kecewa karena tidak dapat bertemu…
Gubernur Apolo menjelaskan, dalam rangka kunjungan tersebut, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Papua…
Menurut Emanuel Gobay, yang juga anggota Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Papua,…
Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan enam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Mimika, Papua…