Categories: METROPOLIS

Taman Mesran Paling Keren Tapi Ada Juga yang Mirip Sarang Hantu

Taman-taman Kota yang Rindang Namun Ngeri Ngeri Sedap

Syarat untuk mendapatkan  Adipura ternyata tak hanya bicara soal pengelolaan dan penanganan sampah tetapi ada juga menyangkut ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH).

Taman Mesran Paling Keren Tapi Ada Juga yang Mirip Sarang Hantu (FOTO: GAMEL/CEPOS)

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura

Dulu ketika Wali Kota Benhur Tomi Mano menjabat, ia menjadi wali kota yang memberi warna soal isu lingkungan. Ia banyak berbicara dalam berbagai pertemuan untuk bagaimana kota tanah kelahirannya lebih terjaga. Tak lama setelah  memimpin, Jayapura meraih piala adipura meski bukan  kategori utama. Ini berlanjut beberapa tahun kemudian. Nah satu indikator pemberian penghargaan ini adalah tersedianya ruang terbuka hijau. Ini juga bisa menjadi cerminan dari sebuah kota berkembang.

Nah seiring dengan program tersebut sejumlah BUMD, BUMN paguyuban mulai terlibat lewat program Coorporate Social Responsibility (CSR)  dengan membuat taman – taman. Ada yang skala besar namun ada juga  yang hanya beberapa meter. Nah dari puluhan taman ini hanya empat taman yang terbilang  besar yaitu Taman Imbi, Taman Mandiri, Taman Mesran dan Taman Wate Na Moya  yang persis disamping toko buku Gramedia Jayapura.

Nah dari empat taman ini ternyata tidak semua membawa fungsi sebagai lokasi yang bisa dipakai untuk bersosial secara estetik. Padahal keberadaan taman  untuk sebuah kota berkembang paling tidak memiliki nilai fungsi ekologi, sosial ekonomi dan kesehatan. Ada juga fungsi estetik untuk menunjang sarana kegiatan rekreatif, edukatif termasuk kegiatan positif lain dalam ruang terbuka hijau.

RTH sendiri adalah ruang publik yang sejatinya bisa dimanfaatkan masyarakat atau warga untuk beberapa poin di atas. Namun kenyataannya  dari semua taman ini bisa dibilang masih sulit untuk memenuhi nilai kenyamanan. Pasalnya dari hampir seluruh  taman ditemukan banyak botol minuman keras/ Kalau bukan botol biasanya orang yang duduk untuk mengkonsumsi miras. Padahal di lokasi yang sama banyak anak – anak yang bermain termasuk ibu – ibu rumah tangga yang mendampingi anaknya bermain.

“Saya pikir taman kota sebagai ruang publik perkotaan dikatakan memenuhi kualitas apabila mencapai kelayakan terhadap kriteria seperti pelayanan pengguna, tingkat aktivitas, tingkat kebermaknaan dan kemudahan akses termasuk apakah bisa memberi kenyamanan bagi pengunjung,” jelas Gunawan, salah satu penggiat sosial di Jayapura, Selasa (17/11).

Cenderawasih Pos mendatangi empat taman tersebut dan mendapati hanya Taman Mesran yang bisa dibilang bersih dan terawat. Meski di lokasi ini masih terlihat ada warga yang duduk sambil mengkonsumsi miras. Namun kelebihan taman ini dibanding taman lainnya adalah lebih terawat dibanding tiga taman lainnya. Termasuk ada fasilitas panggung dan dinding putih yang bisa digunakan untuk memutar infocus.

Sedangkan untuk Taman Mandiri terlihat banyak anak anak bermain namun rumput di lokasi ini terbiar tinggi. Lalu disini ada 15 tempat sampah termasuk satu tong disiapkan untuk kompos. Konsepnya juga sudah berwawasa lingkungan  karena tersedia tempat sampah organik,  anorganik dan B3. Ada juga pondok –  pondok yang disiapkan dengan pohon yang rindang. Ada juga terapi untuk kesehatan kaki. Hanya saja  fasilitas bermain anak tidak berfungsi karena rusak.

“Kalau mau jujur taman – taman ini sering dipakai untuk pesta miras, mungkin saat datang terlihat bersih karena petugas kebersihan yang memang rutin membersihkan,” sindir Gunawan. Taman Imbi sendiri meski berada di titik nol Kota Jayapura ternyata hingga kini masih menjadi lokasi yang tidak nyaman. Pasalnya bagian gapura dari taman tersebut kerap dipakai untuk ngumpul – ngumpul orang mabuk.

Dinding gapura tersebut juga ada yang rusak dan digunakan untuk membuang kotoran manusia. Tak hanya itu ilalang di taman ini juga tinggi padahal setiap hari Jumat dipastikan banyak ASN kota melakukan aksi bersih – bersih. “Sulit juga kalau memang dinasnya tidak serius. Setahu saya kemarin dihandle pihak ketiga tapi sekarang rusak tapi kenyamanan dan rasa aman tentu tidak menunggu,” beber Gunawan. “Saya tidak mau menyampaikan soal taman Kali Anafre karena sulit disebut taman sekarang,” sambungnya.

Akan tetapi dari semuanya, taman disamping gramedia ini yang terbilang paling horor. Bagaimana tidak, pancuran yang berada di tengah sudah tidak berfungsi. Kemudian lampu –  lampu taman juga raib, termasuk ilalang, sampah dan banyak ditemukan botol miras. “Kesini hanya duduk – duduk saja tapi lihat – lihat juga jangan sampai ada orang mabuk karena banyak botol botol,” ujar Yunita salah satu pengunjung yang saat itu masih menggunakan pakaian kerjanya. “Saya pikir ketimbang bersih – bersih ditempat lain mending bersih taman saja dulu karena setiap hari pasti dikunjungi, jangan sampai namanya taman tapi lebih mirip sarang hantu,” saran Gunawan. (*/wen)

newsportal

Recent Posts

Desak Perlindungan Warga Sipil di Tengah Konflik Bersenjata

Karenanya YKKMP berencana akan memasang baliho hak-hak masyarakat sipil khususnya di Distrik Sinak dan Kembru,…

3 hours ago

Harga Minyak Tanah Bersubsidi di Pengecer Semakin Tak Masuk Akal

arga penjualan minyak tanah (Mitan) bersubsidi di tingkat pengecer pada pasaran Wamena semakin meninggi. Sebab…

4 hours ago

Dua Bersaudara jadi Korban Curas di Kampung Tulem

Aksi pencurian dengan kekerasan kembali terjadi di Jayawijaya kembali terjadi. Kali ini tepatnya di Kampung…

5 hours ago

Rumah Sakit Pengampu Nasional dan Regional Cek Langsung RSUD Merauke

Saat di RSUD Merauke tersebut, para direktur utama rumah sakit tersebut didampingi Kepala Dinas Kesehatan…

7 hours ago

Mimika Diterjang Hujan Lebat dan Angin Kencang

Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan BMKG, sejak pukul 13.00 WIT, hujan dengan intensitas sedang hingga…

8 hours ago

Belasan OPD Absen, Wali Kota Beri Sinyal Ganti

Tak hanya di tingkat OPD, rendahnya partisipasi juga terjadi di jajaran wilayah. Dari lima kepala…

9 hours ago