

Daerah aliran sungai Kamp Wolker yang masih menyisakan tanda-tanda luapan air banjir, Jumat (7/1) lalu. (FOTO: Noel/Cepos)
JAYAPURA-Banjir dan longsor yang melanda Kota Jayapura Jumat (7/1) lalau memang membuat banyak warga trauma, terutama bagi warga yang selama ini tinggal di daerah rawan bencana. Kekhawatiran ini yang juga dirasakan oleh sejumlah warga yang bermukim di sekitar Sungai Kampwolker Perumnas III Waena.
Menurut warga yang bermukim di sekitar bahwa naiknya debit air saat banjir lalu tidak seperti biasanya, karena lebih dari 10 meter sehingga menghantam beberapa rumah dari bibir sungai tersebut.
“Air yang naik pada malam itu tidak seperti biasanya Kami merasa rumah kami berada di ketinggian tetapi air dia naik sampai masuk di lantai rumah,” kata Warga Kamp Wolker, Opni Oagai, Kepada Cenderawasih Pos, Selasa, (18/1).
Melihat peristiwa ini warga setempat pada pagi hari Jumat, (07/1) usai banjir tersebut langsung melakukan berjalan kaki untuk melihat aliran sungai di Hulu Sungau Kamp Wolker untuk melihat apakah adanya longsor atau endapat air yang bisebahayakan warga di hilir sungai.
“Banjir hari itu tidak seperti biasanya, makanya untuk memastikan apakah terjadi longsor ataupun bisa saja ada banjir bandang seperti Sentani kami jalan kaki ke atas (Hulu) sungai untuk melihat lokasi di sana,” kata Warga Kamp Wolker Perumnas III, Waena, Danny Tabuni Selasa, (1/12).
Melihat hal itu mereka mengungkapkan bahwa untuk wilayah di Hulu Sungai tidak terjadi longsor ataupun adanya gejala longsor, namun deras dan volume air yang membuat terjadinya sedikit erosi.
“Kami naik sampai di atas tapi kami lihat diatas aman-aman saja, kami sudah berpikir bisa saja terjadi seperti di Sentani tapi untuk Kamp Wolker masih aman,” katanya.
Meski demikian ia mengaku tempat yang hari ini ditempati warga merupakan jalur air. Namun kini sudah banyak dijadikan pemukiman warga. Karena itu, agar tidak tergerus air atau abrasi, diharapkan pemerintah membangun talud di sepanjang kali Kampwolker.
“Untung saja kemarin itu ada sedikit pembangunan bronjong di sekitaran belokan air di atas, sehingga air hanya mengikis pinggir sungai sampai dengan ujung aspal jalan kampwolker. Karena itu, kami harapkan harus dibangun talud, karena tempat itu tempat air meluap naik dan turun,” katanya.(oel/tri)
Tekanan ekonomi dan sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan ternyata tidak hanya berdampak pada tingkat kesejahteraan, tetapi…
Kepala BMKG Merauke, Wahyu Hidayat mengungkapkan berdasarkan pemantauan citra satelit Himawari-9 pada Kamis (10/9) pukul…
Kasat Reskrim Polres Jayapura AKP Axel Panggabean, mewakili Kapolres Jayapura AKBP Dionisius VDP Helan, mengatakan…
Berdasarkan hasil analisis pemutakhiran parameter dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa…
Ketua Tim Meteorologi Publik BMKG, Finnyalia Napitupulu, menginformasikan bahwa gambaran cuaca secara umum di…
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk mengatakan, definisi OAP telah memiliki dasar hukum…