

JAYAPURA – Sejumlah mahasiswa Universitas Cenderawasih (UNCEN) Fakultas MIPA Program Studi Farmasi menciptakan produk baru yakni kulit buah matoa dibuat menjadi lulur organik atau KPOP (Kulit Pometia Pinata). Adapun ciptaan ini diketuai oleh Kurnianti Mendila dan ketiga rekannya Noviana Hallik, Cahyuni Saputri Yusuf dan Yesta Feby Sapan.
Sebagai ketuai, Kurnianti Mendila mengatakan bahwa produk ini di buat dengan mengusulkan ide ke program kreativitas mahasiswa pada bulan oktober tahun tahun 2018 yang digelar oleh Kemenristek Dikti.
“Ajang ini merupakan menguji kreatifitas mahasiswa degan memanfaatkan sumber daya alam yang ada dan ide kami ini pembiayaan dari Kemenristek Dikti dan diberikan hibah pada bulan April lalu,” kata Kurniati ke Cenderawasih Pos di Kampus Uncen Waena, Kamis (16/05).
Dirinya mengakui bahwa produk KPOP itu adalah produk lulur organik kering dan tidak menggunakan bahan kimia maupun pengawet dan itulah yang membedakan dengan produk sejenis yang beredar dipasaran.
“Kalau produk di pasaran sekarang lebih banyak menggunakan bahan kimia yang efeknya juga kurang baik, hal itulah yang salah satu dasar kami menciptakan produk ini,”jelasnya.
Perlu diketahui bahwa produk KPOP bukan produk lulur pemutih tapi penangkal radikal bebas dan mengangkat sel kulit mati pada seluruh bagian tubuh.
“Lulur organik ini digunakan diseluruh tubuh bukan hanya dimuka saja, selain itu juga kegunaanya baik laki-laki maupun perempuan,”tuturya.
Kurniati menjelaskan bahwa proses pembuatannya yang pertama , Penyiapan bahan utama yaitu kulit buah matoa yang berupa ekstrak dan serbuk dengan takaran 9 gram, kemudian di campurkan dengan Oryza Sativa yang telah di haluskan sebanyak 11 gram dan di campurkan Zea Mays sebanyak 8 gram dan di tambahkan essential (pewangi) dengan takaran 2 ml. Setelah semua bahan tercampur rata, di timbang dan dimasukan pada wadah dan standing pouch yang tersedia.
“Untuk saat ini ada dua jenis kemasan yang kami sertakan dengan lulur organi yakni, berbetuk botol dan saset yang jika dijual seharga Rp 20 ribu per kemasan,”paparnya.
Dimana dalam membuat produk lulur organik tersebut pihaknya mengakui telah terinsiprasi dari melimpahnya kekayaan alam ditanah Papua dimana matoa yang merupakan salah satu buah-buhan vaforit orang Papua yang sering dijumpai.
Sementara itu Cahyuni mengatakan bahwa alat yang digunakan adalah, mortas, stamper, wadah baskom, sendok ,timbangan lab dan blender. Berdasarkan penelitian yang telah di lakukan pihaknya memang kulit matoa mengandung senyawa antioksidan yang tinggi yang dapat menangkal radikal bebas.
“Langkah yang kami tempuh selanjutnya akan daftarakan ke ijin edar di BBPOM, PIRT dan sertifikat halal,”tutupnya.(kim).
Belakangan ini, publik dihadapkan pada sejumlah pertandingan yang memicu tanda tanya, termasuk laga antara Persiba…
ewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kota Jayapura, menyatakan keprihatinan mendalam atas kondisi yang terjadi di sejumlah…
Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Benjamin Paulus Octavianus, menegaskan Papua masih menghadapi beban penyakit menular…
Pemerintah Kota Jayapura menegaskan komitmennya dalam memastikan penyaluran Bantuan Pangan Nasional berjalan tepat sasaran dan…
Bupati Jayapura, Yunus Wonda, meminta masyarakat pemilik hak ulayat tidak lagi melakukan aksi pemalangan, terutama…
"Kemarin itu saat pertemuan memang dirasa ada ketidakadilan sebab kita mendapatkan kuota fiskal untuk otsus…