Lanjut dia, ada beberapa tema yang dikembangkan, yang ditawarkan dalam kurikulum itu, dan setiap sekolah memilih berdasarkan isu atau kebutuhan belajar dari peserta didik. Jadi mungkin di setiap sekolah kita bisa, melihat bahwa produknya hampir tidak jauh berbeda. Contoh kalau berbicara tentang kearifan lokal, berarti berbicara tentang budaya lokal Port Numbay.
Kemudian, kalau dia berbicara tentang gaya hidup berkelanjutan, berarti dia berbicara tentang produk-produk daur ulang lalu kemudian bagaimana merawat bumi ini, begitu juga dengan tema-tema yang lain.
“Sasaran yang ingin dicapai sebetulnya, adalah karakter. Jadi contoh melalui tema ini, apakah itu karakter gotong royong, atau karakter mandiri atau kreativitas, atau kebhinekaan global, dan ada beberapa karakter memang yang sudah di situ tersedia dan kita tinggal memilih berdasarkan kebutuhan belajarnya” tambahnya. (roy/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Prestasi tersebut berdasarkan laporan Eye on the Market yang dikeluarkan oleh JP Morgan Asset Management.…
Salah satunya datang dari studi yang dilakukan oleh Universitas Oxford, yang meninjau berbagai metode berhenti…
Terong Belanda merupakan buah unik dengan bentuk lonjong menyerupai telur dan cita rasa asam yang…
Dikutip Kemenko Pangan, Agenda besar ini merupakan langkah konkret pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan di…
“Jadi itu kan nilai proyek pembangunan fisik, sebenarnya di angka Rp 1,6 miliar anggarannya. Kenapa…
Dalam pidatonya yang disiarkan melalui kanal YouTube Borobudur Hukum Channel, Megawati menyoroti kondisi penegakan hukum…