Hal yang sama juga ditindaklanjuti ke Badan Pusat Statistik (BPS) untuk menghapus babi dari komoditas pengukur inflasi namun dikarenakan konsumsi babi yang tinggi di Mimika sehingga komoditas yang satu ini tidak dapat dikeluarkan.
“Sebenarnya ini (babi,red) tidak ada di dalam daftar inflasi, tapi karena teman-teman di provinsi mereka melihat bahwa konsumsii babi di kabupaten ini terlalu tinggi sehingga mereka tambahkan itu,” kata Yulius.
Lebih lanjut, Yulius berharap agar menjelang hari raya Natal 2025 nantinya harga daging babi di Mimika sudah kembali normal. “Sementara ini kami masih kesulitan intervensi daging babi itu. Kalau yang lain-lain kami bisa melakukan apapun,” tutupnya. (mww/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
mantan klubnya itu wajib menyapu bersih 6 laga sisa jika ingin kembali tampil pada kompetisi…
Terkait ini Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang, Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (PUPR-PKPP)…
Pertandingan ini diprediksi berjalan sengit. Kedua tim sama-sama mempertaruhkan nama daerah masing-masing. Namun Persiker Keerom…
Ia juga meminta para kepala daerah untuk turun langsung ke lapangan apabila terjadi bencana. Menurutnya,…
Hasil ini mengukuhkan Persido Dogiyai sebagai juara Grup A dengan koleksi 7 poin, sementara Persemi…
Kompetisj kasta keempat Tanah Air ini dijadwalkan akan mulai bergulir pada 16 Maret hingga 8…