Categories: MIMIKA

Krisis Stok Darah Mimika, PMI Desak Pemda Bangun UDD Mandiri

MIMIKA — Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Mimika mendesak pemerintah daerah setempat untuk segera berinvestasi membangun Unit Donor Darah (UDD) mandiri. Ketiadaan fasilitas ini membuat pemenuhan kebutuhan darah di Mimika tidak merata dan berisiko tinggi mengancam keselamatan pasien di wilayah tersebut.

​Berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kebutuhan darah ideal sebuah wilayah adalah 1% hingga 2% dari total populasi. Dengan jumlah penduduk Mimika yang saat ini mencapai sekitar 300.000 jiwa, wilayah ini membutuhkan sedikitnya 3.000 hingga 6.000 kantong darah per tahun.

Sekretaris PMI Kabupaten Mimika, dr. Raflus Doranggi, mengungkapkan bahwa pemenuhan kebutuhan darah saat ini sepenuhnya masih bergantung pada Unit Transfusi Darah Rumah Sakit (UTDRS), seperti yang dimiliki RSUD Mimika dan RS Mitra Masyarakat (RSMM).

“Kondisinya saat ini, rumah sakit yang memiliki unit donor darah pasti mendahulukan kebutuhan pasien di rumah sakit mereka sendiri. Sementara rumah sakit lain, seperti RS Bhayangkara, harus menunggu sisa stok darah yang ada. Ini tidak ideal,” jelas dr. Raflus, Senin (29/6/2026).

​Menurut dr. Raflus, negara sebenarnya telah memberikan mandat kepada PMI sebagai lembaga utama pengelola urusan darah dari hulu ke hilir. Sayangnya, infrastruktur pendukung di Mimika belum memadai karena pengelolaan darah masih sering dianggap sebagai sekadar aksi sosial, bukan kebutuhan medis yang vital.

Ia menyoroti ketimpangan kebijakan pemerintah daerah yang dinilai lebih fokus pada pembangunan infrastruktur fisik ketimbang infrastruktur kesehatan primer yang menyangkut nyawa manusia.

“Kalau jalan dan jembatan rusak, ada Dinas PU yang mengurus dengan dana khusus. Jalan dan jembatan itu menghubungkan wilayah,” kata dr. Raflus.  “Tapi kalau darah, ini menghubungkan nyawa. Tidak ada produk obat apa pun yang bisa menggantikan darah,” imbuhnya.

​Darah merupakan elemen krusial dalam tindakan medis darurat. dr. Raflus mencontohkan, dokter spesialis bedah atau kandungan tidak akan berani melakukan tindakan operasi jika ketersediaan darah bagi pasien tidak terjamin.

Oleh karena itu, PMI Mimika meminta pemerintah daerah segera mengalokasikan anggaran untuk pembangunan UDD PMI yang representatif dan tidak lagi memandang penyediaan darah sebagai persoalan pelengkap. (mww/wen)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Jalur Laut Perbatasan RI-PNG Rawan Penyelundupan

   Komandan Kodaeral X, Mayjen TNI (Mar) Sugianto,  mengungkapkan bahwa  penangkapan pertama terjadi pada Selasa,…

50 minutes ago

Olahan Ikan Papua Tembus Amerika, Nelayan Lokal Jadi Penopang

   Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Papua, Iman Djuniawal, mengatakan penerimaan pasar Amerika…

2 hours ago

​Dibatasi Waktu, Tiap OPD Diminta Segera Lakukan Aksi dan Evaluasi

  Karena itu Rustan, mengingatkan para pimpinan OPD bahwa dokumen DPPA yang diterima bukanlah sekadar…

3 hours ago

BPN Papua Tekankan Perlindungan Lahan Pangan dan Tanah Adat

   Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Papua Roy Wayoi di Jayapura, Jumat, mengatakan perlindungan lahan…

4 hours ago

Pemkot Jayapura Dorong Peran Pemuda Melestarikan Budaya Lokal

   Selain fokus memperkuat kerja sama antardaerah, Abisai menggarisbawahi pentingnya melibatkan generasi muda dalam upaya…

5 hours ago

Lindungi Lumbung Pangan Muara Tami dari Alih Fungsi Lahan

    ​Wakil Wali Kota Jayapura, Dr. Ir. H. Rustan Saru, MM, menegaskan bahwa Perda…

6 hours ago