Categories: SENTANI

Proyek Pelabuhan Kapal Cepat Dihentikan

Tiang pancang pelabuhan kapal cepat di Kampung Kendate, Distrik Depapre yang kontraknya diputuskan oleh Pemkab Jayapura sejak 2018 lalu. Foto ini diambil, Minggu (14/3). ( FOTO: Robert Mboik Cepos)

*Kadishub: Tidak ada Kerugian Negara

SENTANI- Pembangunan pelabuhan kapal cepat di Kampung Kebdate, Distrik Depapre yang dimulai 2018 lalu, kini tidak dilanjutkan. Pembangunannya sudah dimulai dengan penanaman tiang pancang pelabuhan itu.

Kepala Kampung Kendate, Ibrahim Waisamon mengatakan, pembangunan pelabuhan tersebut dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura melalui Dinas Perhubungan Kabupaten Jayapura. 

“Masyarakat agak bingung, ada 3 kontraktor yang mengerjakan pelabuhan itu sampai yang terakhir tidak bisa selesai,”katanya ketika dikonfirmasi wartawan di Kampung Kendate, Minggu (14/3).

Dia mengatakan, jumlah anggaran proyek itu belum diketahui pihaknya karena pada saat pekerjaan, tidak ada papan kontrak yang menerangkan mengenai nilai pekerjaan tersebut. Hanya dari beberapa orang yang terlibat langsung dalam proyek pelabuhan itu menyebutkan bahwa pekerjaan pelabuhan itu menelan anggaran senilai Rp 2 miliar.

Dia juga menyayangkan mekanisme pengerjaan penanaman tiang pancang yang tidak menggunakan alat, tapi dengan menggunakan tenaga manusia. Ini kemudian yang menyebabkan beberapa tiang itu mengalami kemiringan sehingga pasti tidak bisa maksimal pada saat digunakan.

Pihaknyapun meminta dinas terkait supaya segera mencabut tiang yang tidak beraturan itu. Karena tempat itu merupakan tempat pendaratan speed boat milik masyarakat setempat.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Jayapura, Alfons Awoitauw menegaskan, tidak ada indikasi kerugian negara dari proyek tersebut. Namun harus diketahui bahwa, pekerjaan itu terhenti karena kontraknya sudah diputuskan. Pemutusan itu dilakukan setelah pihaknya melakukan evaluasi dan progres pekerjaan tidak maksimal sehingga pihaknya langsung memutuskan kontraknya.

“Saya baru masuk 2018, salah satu yang bermasalah itu, dan kita putuskan kontraknya, karena progresnya tidak maksimal, supaya tidak ada kerugian  negara. Kita juga lakukan tagihan terhadap progres itu, karena dia tidak memenuhi. Kemudian uang jaminannya dari dinas tidak kembalikan. Yang namanya mangkrak itu, ada indikasi kerugian negara, kalau ini tidak ada indikasi kerugian negara, kita yang lakukan pemutusan kontrak. Uang jaminan  tidak boleh diminta kembali, karena itu kelalaian mereka, bukan pemberi kerja,”paparnya. (roy/tho)

newsportal

Recent Posts

Polisi Temukan 10 Selongsong Peluru 5,56 MM

Kapolres Jayawijaya AKBP. Anak Agung Made Satriya Bimantara, S.IK menyatakan aparat dari Polres Jayawijaya didukung…

20 hours ago

Laporan Pertanggungjawaban Lambat, Pemprov Disemprot

Wagub atas nama Pemerintah Provinsi disemprot Fraksi PDI Perjuangan terkait penyampaian dan pembahasan laporan pertanggungjawaban…

20 hours ago

Tanamkan Karakter dan Integritas Untuk Cegah Korupsi Sejak Dini

  Upaya ini dinilai sangat strategis mengingat korupsi bukan sekadar kejahatan biasa, melainkan masuk dalam…

21 hours ago

Satu KKB “Bernyanyi”, Empat Orang Langsung Dibekuk

Dari lima tersangka yang ditetapkan, dua di antaranya, yakni AU dan MP tewas setelah melakukan…

21 hours ago

Kepsek Diwarning, Harus Tegas Tangani Tawuran Pelajar!

   Kepala Dinas Pendidikan Kota Jayapura, Rocky Bebena, mengatakan persoalan tawuran antara kedua sekolah tersebut…

22 hours ago

Diduga Kelompok Baru yang Bermain

Komandan Kodim (Dandim) 1710/Mimika, Letkol Inf Teuku Jozanda, mengonfirmasi bahwa penyisiran dan operasi pencarian kini…

22 hours ago