Categories: SENTANI

Maraknya Peredaran Boplas, Kamtibmas Harus Jadi Tanggung Jawab Bersama

SENTANI – Bupati Jayapura, Yunus Wonda, menegaskan bahwa keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) bukan hanya menjadi tanggung jawab TNI-Polri, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk para kepala kampung dan kepala distrik.

Hal tersebut disampaikannya mengingat maraknya kasus kekerasan, pencurian dan gangguan Kamtibmas yang disebabkan oleh peredaran dan konsumsi minuman keras lokal atau yang dikenal dengan sebutan (boplas) di wilayah Kabupaten Jayapura.

“Kamtibmas bukan hanya tanggung jawab Kepolisian atau TNI-Polri. Itu tanggung jawab kita semua,” tegas Yunus Wonda, Kamis (12/2).

Ia meminta para kepala kampung dan kepala distrik untuk berperan aktif menertibkan masyarakat yang masih memproduksi maupun mengonsumsi minuman keras lokal tersebut. Menurutnya, peredaran minuman oplosan sangat membahayakan kesehatan dan keselamatan warga.

“Saya harap kepala-kepala kampung dan kepala distrik bisa tertibkan masyarakat kita yang setiap hari minum-minum boplas. Tolong dibantu dengan edukasi kepada masyarakat,” ujarnya.

Bupati Yunus menyoroti dampak serius dari konsumsi minuman keras oplosan yang tidak memiliki standar kadar alkohol yang jelas. Ia menyebut, minuman racikan tersebut kerap menimbulkan korban, mulai dari gangguan penglihatan hingga meninggal dunia.

“Kalau yang pabrik itu jelas ada kadarnya. Tapi yang ini, campur-campur saja langsung jadi. Kadar alkoholnya bisa langsung tinggi sekali. Ada yang minum lalu matanya buta, ada juga yang langsung meninggal,” ungkapnya.

Ia juga menyayangkan fenomena peracikan minuman keras ilegal yang dinilai semakin marak. Menurutnya, bahan-bahan kimia dicampur tanpa pengetahuan yang memadai, namun hasilnya justru beredar luas di tengah masyarakat.

“Kadang saya bingung, orang yang sekolah tinggi belajar kimia susah payah. Ini yang tidak sekolah khusus bisa campur-campur langsung jadi minuman memabukkan. Tapi dampaknya sangat berbahaya,” katanya.

Meski demikian, Bupati Yunus mengakui bahwa penanganan persoalan minuman keras tidaklah sederhana. Ia menilai, jika peredaran minuman resmi diperketat, dikhawatirkan produksi miras ilegal justru semakin subur dan sulit diawasi karena dibuat secara sembunyi-sembunyi di hutan maupun pegunungan.

“Kalau yang resmi dibatasi, yang ilegal ini bisa makin subur. Mereka bikin di belakang hutan, di gunung, siapa yang tahu? Ini yang sulit kita awasi,” jelasnya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Tiga Hari Lagi, Persipura Launching di Enam Kota

Ada yang berbeda dari launching Persipura kali ini. Untuk pertama kalinya, rangkaian launching akan digelar…

6 hours ago

Sensus Ekonomi Papua Terkendala Sinyal dan Keraguan Warga

   Plt. Kepala BPS Papua, Akhmad Jaelani, mengatakan karakteristik wilayah Papua membuat proses pendataan membutuhkan…

11 hours ago

Pemkot dan Bulog Salurkan 1.122 Ton Beras untuk 37.401 Penerima

Penyaluran bantuan pangan ini menyasar 37.401 penerima bantuan pangan yang tersebar di 25 kelurahan dan…

12 hours ago

PAN Papua Panaskan Mesin Politik

Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Papua bersama seluruh DPD PAN tingkat kabupaten/kota…

15 hours ago

Terima SK, Ratusan ASN Diminta Bekerja Baik Melayani Masyarakat

   Status baru sebagai ASN membawa tanggung jawab yang lebih besar untuk mengabdi kepada negara…

17 hours ago

Papua Dibayang-bayangi El Nino Hingga Tahun 2027

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura menerbitkan peringatan dini terkait ancaman kekeringan…

18 hours ago