Categories: PEGUNUNGAN

Ada Gejala Klinis, Tapi Belum Dipastikan Varian Delta

WAMENA-Meski secara klinis penyebaran Covid-19 menunjukkan ciri-ciri dari varian baru, yakni varian delta, namun hingga kemarin Dinas Kesehatan Kabupaten Jayawijaya belum bisa memastikan. Sebab, pembuktiannya harus menggunakan CT Scan.

  Kepala Dinas Kesehatan dr. Willy Mambieuw, Sp.B mengaku sejak Sabtu sampai Minggu kemarin jumlah pasien Covid-19 yang dirawat itu sebanyak 300 pasien. Bahkan, pada hari Selasa kemarin ada dua orang pasien yang meninggal dunia. Sehingga pasien yang dirawat total 298 orang,  yang meninggal total sudah mencapai 9 orang. Hal ini yang membuat Pemkab Jayawijaya perlu mengantisipasi masuknya varian delta

   “Kita di Jayawijaya memang belum ada laporan dari petugas di lapangan, untuk varian Delta dari Covid -19   bisa dideteksi dengan melakukan pemeriksaan CT Scan terhadap pasien yang dicurigai,” ungkapnya kepada Cenderawasih Pos  via selulernya, Selasa (20/7) kemarin.

   Ia juga menyatakan, alat CT Scan di RSUD Wamena sudah ada, namun untuk tenaga dokter Spesialis Radiologi sudah selesai pendidikan, tapi masih mengurus administrasinya, sehingga belum ada di Wamena. 

  “Kita belum bisa buktikan varian baru ada atau tidak di Jayawijaya, sebenarnya varian delta dengan yang saat ini sama saja gejalanya, namun karena varian delta lebih cepat masa inkubasi penularannya kepada yang orang lain mungkin hanya mencapai 2-3 hari, sementara yang lama itu bisa 5-7 hari baru bergejala,” jelasnya.

  Dengan penularan Covid -19 yang cepat di Jayawijaya, diakui dokter Willy, secara klinis memang menuju ke Varian delta karena terlalu cepat penularannya.  “Kalau kita lihat penularan Covid -19 yang cepat di jayawijaya ini maka memang mengarah kesana , namun saat ini kita belum punya bukti kuat sudah ada varian delta di Jayawijaya atau tidak,”katanya

  Dengan banyaknya pasien Covid -19 saat ini, lanjut dokter Willy,  sudah jelas ada klaster baru. Meski Pemkab Jayawijaya sudah  menutup penerbangan penumpang selama ini, namun yang tersebar di dalam Jayawijaya ini selama ini mereka tidak jujur kalau merasa ada gejala seperti sakit jika menelan, namun mereka tetap tinggal di rumah dan menyebarkan kepada keluarga dan tetangga sekitar.

   “Ini yang menyebabkan klaster penyebaran Covid -19 di dalam  Jayawijaya ini lebih cepat berkembang di tengah masyarakat meskipun penerbangan penumpang sudah ditutup, selama ini memang penumpang yang masuk itu hasil pemeriksaannya belum keluar, tetapi sudah beberapa hari baru terdeteksi, dan terlanjur menyebarkan ke orang lain,” bebernya. (jo/tri) 

newsportal

Share
Published by
newsportal

Recent Posts

Wali Kota: SPMB di Sekolah Negeri Gratis!

Terkait Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) ini, Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo menegaskan bahwa…

10 hours ago

Tuntutan 13 Tahun Penjara Agar Ada Efek Jera

Kepala Kejaksaan Negeri Jayawijaya, Sunandar Pramono, SH, MH mengatakan dari 9 terdakwa kasus korupsi dana…

10 hours ago

MRP Kecewa, Tak Bisa Bertemu Bupati dan Wabup Jayapura

Kelompok Kerja (Pokja) Adat Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua mengaku kecewa karena tidak dapat bertemu…

11 hours ago

Besok, Wapres Dijadwalkan Kunjungi Asmat

Gubernur Apolo menjelaskan, dalam rangka kunjungan tersebut, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Papua…

11 hours ago

Pemerintah Jangan Korbankan Tanah Adat

Menurut Emanuel Gobay, yang juga anggota Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Papua,…

12 hours ago

6 SPPG Mimika yang Dibekukan Segera Beroperasi Kembali

​Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan enam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Mimika, Papua…

12 hours ago