

Sejumlah lahan perkebunan masyarakat yang rusak akibat bencana banjir beberapa waktu lalu. Untuk meminimalisir korban akibat bencana, diharapkan bisa dibentuk Kampung Siaga Bencana. ( FOTO:Denny/ Cepos )
WAMENA-Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Jayawijaya, Petrus Mahuze mengaku hingga saat ini Kabupaten Jayawijaya belum memiliki desa atau kampung siaga bencana, padahal pemukiman atau kapung di wilayah sepanjang aliran Kali Baliem rawan terkena bencana banjir.
Menurut Petrus, Kabupaten Jayawijaya sudah memiliki peta kawasan-kawasan rawan banjir, karena itu ke depan memang harus dibentuk Desa atau Kampung Siaga Bencana berdasarkan kawasan yang sering kali terjadi banjir.
“Secara teknis kita belum ada desa siaga bencana, tetapi berharap kita harus membentuk desa siaga bencana berdasarkan kawasan-kawasan yang tadi kita petakan itu. Macam contoh di Musftak, Yiwika, itu sebenarnya kawasan-kawasan yang kita petakan sebagai kawasan bencana banjir akibat curah hujan tinggi dan meluapnya Sungai Baliem,” ungkapnya Selasa (20/4) kemarin
Petrus mengakui secara teknis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang memiliki tugas terkait pencegahan maupun penanganan bencana, namun pihaknya selalu mendukung melalui program yang diajukan organisasi perangkat daerah tersebut.
“Kita di Jayawijaya kan rawan banjir. Jadi kawasan-kawasan yang dipetakan itu sudah kita informasikan lewat BPBD, sehinga eksen teknis ada di mereka. Artinya dari sisi program kami tetap mendukung langkah yang dilakukan mengatasi bencana banjir ini,” jelasnya.
Dengan adanya desa siaga bencana maupun pelatihan kepada masyarakat di kawasan bencana, masyarakat dan pemerintah bisa meminimalisir korban harta benda maupun korban jiwa atau meminimalisir dampak dari banjir itu sendiri.
“Kita harapkan ada desa siaga bencana yang dibentuk, khususnya dari wilayah yang rawan banjir atau dilakukan pelatihan kepada masyarakat agar memiliki pengetahuan untuk melakukan antisipasi agar tidak banyak korban,”kata Petrus
Sebelumnya Pemerintah Jayawijaya menyebutkan warga 23 distrik di kabupaten ini terkena bencana banjir dan tanah longsor menyusul tingginya curah hujan sejak Februari hingga Maret 2021. Pemerintah kemudian mendata jumlah korban serta mendistribusikan bantuan sembilan bahan pokok (sembako) kepada korban banjir
Namun sampai saat ini hujan masih terus mengguyur Jayawijaya dan sekitarnya di malam hari dengan intensitas sedang, sehingga warga yang ingin berkebun juga masih ragu untuk melakukan aktifitasnya khususnya bercocok tanam. (jo/tri)
Belakangan ini, publik dihadapkan pada sejumlah pertandingan yang memicu tanda tanya, termasuk laga antara Persiba…
ewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kota Jayapura, menyatakan keprihatinan mendalam atas kondisi yang terjadi di sejumlah…
Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Benjamin Paulus Octavianus, menegaskan Papua masih menghadapi beban penyakit menular…
Pemerintah Kota Jayapura menegaskan komitmennya dalam memastikan penyaluran Bantuan Pangan Nasional berjalan tepat sasaran dan…
Bupati Jayapura, Yunus Wonda, meminta masyarakat pemilik hak ulayat tidak lagi melakukan aksi pemalangan, terutama…
"Kemarin itu saat pertemuan memang dirasa ada ketidakadilan sebab kita mendapatkan kuota fiskal untuk otsus…