

Penerbangan perdana jalur perintis ke-12 titik di Selatan Papua ditandai dengan pengguntingan pita, Jumat (14/1). (FOTO:Sulo /Cepos)
MERAUKE- Kepala Bandara Mopah Merauke, Thomas Alfa Edison meminta dilakukan evaluasi terhadap 3 jalur perintis penerbangan. Ketiga jalur perintis penerbangan yang minta dievaluasi tersebut adalah jalur perintis Merauke-Ewer-Merauke, kemudian Merauke-Bomakia-Merauke dan Merauke-Wanam-Merauke.
Untuk Merauke-Ewer-Merauke, Thomas Alfa Edison meminta divaluasi kembali karena saat ini sudah ada pesawat ATR yang masuk ke Ewer yakni Wings. Saat ini, harga tiket Merauke-Ewer-Merauke untuk Wings kata dia adalah Rp 1,6 juta. Sementara pesawat perintis dengan harga Rp 400 ribu, sehingga terjadi berbedaan yang menjolok. ‘’Nanti bisa menjadi temuan, sehingga harus dievakuasi,’’ katanya.
Sementara untuk Merauke-Bomakia-Merauke kata dia, soal penumpang yang sepi setiap penerbangan. Karena rata-rata penumpang hanya sekitar 3 orang. ‘’Yang ramai adalah jalur Bomakia-Tanah Merah-Bomakia. Kalau Merauke-Bomakia-Merauke selalu sepi,’’ terangnya.
Sedangkan Merauke-Wanam-Merauke memiliki kasus yang berbeda. Thomas mengaku, tidak menyebut bandara Wanam, tapi lapangan terbang (Lapter) Wanam. Karena sebuah bandara sudah dilengkapi dengan fasilitas lain-lain sesuai UU Penerbangan Pasal 1 point 33. ‘’Semua yang tidak dikelola oleh perhubungan disebut Lapter atau air street,’’ terangnya.
Menurutnya, lapangan terbang yang ada di Wanam tersebut masih dikelola pihak ketiga dalam hal ini masih PT Djarmaru, perusahaan penangkap ikan asal Tiongkok. Karena masih berstatus milik swasta sehingga tiket pesawat dari Merauke-Wanam-Merauke yang terbang kurang dari 1 jam dengan harga diatas Rp 1 juta. ‘’Kasihan masyarakat kalau tiket terlalku mahal sampai Rp 1,2 juta. Kasihan masyarakat,’’ tandasnya.
Seharusnya, lanjut dia, Lapter tersebut diambil alih pemerintah daerah. Setelah diambil alih oleh pemerintah, kemudian dilakukan MoU antara pemerintah daerah untuk pihaknya kelola. ‘’Jadi Satker dibawah Merauke, sehingga tidak terjadi penjualan tiket yang tidak terlalu besar seperti sekarang,’’ katanya.
Ditambahkan, tiket diatur oleh pihak pengelola Lapter tersebut. ‘’Jadi susi juga atur harga tiket di sana. Makanya saya bilang, kalau tiket terlalu mahal lebih baik tutup,’’ tandasnya. (ulo/tho)
“Kampus ini dibangun untuk menjawab masalah kesehatan di Papua yang belum selesai-selesai,” ungkap mantan Kepala…
Pemutaran film dokumenter Pesta Babi di Kedai Kopi One Milly, kawasan Skylan, Kota Jayapura, Selasa…
LBH Papua menilai operasi penyisiran aparat keamanan di sejumlah wilayah Kabupaten Dogiyai setelah peristiwa tersebut…
Kapolres Jayapura AKBP Dionisius V.D.P Helan,melalui Kasat Lantas Polres Jayapura AKP Robertus Rengil menjelaskan korban…
Lagi-lagi Kantor Distrik Sentani di palang oleh pemilik hak ulayat,mereka menuntut Pemerintah Kabupaten Jayapura harus…
Perkara yang menyeret mantan Bendahara SMA Negeri 4 Jayapura Parmi Milka Mugiutomo, sebagai terdakwa utama…