Categories: MERAUKE

Sudah 250 Orang Mendaftar Online di SMAN I Merauke

Sergius Womsiwor, S.Pd, M.Pd  ( FOTO: Sulo/Cepos )

MERAUKE-  Hingga    Kamis  (3/6)   jumlah  calon   siswa yang telah mendaftar   di  SMAN I Merauke sebanyak  250  orang. Jumlah  ini   diperkirakan  meningkat ketika  pendaftaran  dilakukan  secara  offline  yang akan dimulai Senin (8/6) mendatang.   

  “Sampai sekarang jumlah  siswa yang  telah mendaftar secara online sudah mendapai  250 orang,’’ kata Kepala   Sekolah SMAN I Merauke   Sergius  Womsiwor, S.Pd, M.Pd, ketika   ditemui  Kamis   (3/6).    

  Pada tahun   ini, kata  Sergius Womsiwor, pihaknya akan menerima    siswa sebanyak  12   rombongan belajar   dimana setiap   kelas   maksimal  36  siswa. Sehingga  totalnya  432  siswa. ‘’Makanya  sekarang ada penambahan ruangan kelas,’’ jelasnya.   

   Sebagai sekolah inklusif,  kata Sergius  Womsiwor,   SMAN I Merauke   selain menerima  siswa  formal   tapi juga  siswa non  formal.  Dijelaskan bahwa pendidikan  inklusif   ini  adalah satu  pendidikan formal dan satunya informal.  Menurut  dia, pendidikan  inklusif   formal adalah anak-anak yang  dalam  kehidupan sehari-hari mengikuti  proses  kegiatan  belajar mengajar mengikuti pendidikan  formal  dari SD, SMP dampai SMA.    

     “Yang dimaksud inklusif  adalah ketika mereka ini ada di sekelah  tapi mengalami kesulitan   belajar yang disebabkan  oleh persoalan dari rumah. Misalnya, ada anak dari daerah yang jauh    tapi  mereka mengalami  kesulitan makan minum,  kesulitan pakaian, kesulitan   sepatu dan  lain-lain. Nah, disitu sekolah mengambil  peran untuk mengatasi  persoalan itu  dan itu yang disebut pelayanan inklusif,’’   jelasnya. 

   Sementara  inklusif  non  formal diberikan  kepada  anak-anak yang sudah terindikasi dengan jelas  persoalan yang dialami. ‘’Seperti  anak-anak kita yang ada di pinggir   jalan yang   kesehariannya membuat Kota Merauke suatu pandangan  yang  kurang sedap di mata. Seperti anak-anak yang  biasa hirup  lem aibon,’’ katanya. 

  Guru yang akan mendampingi mereka, kata dia,  ada guru khusus    yang  akan dilatih  untuk  bagaimana  bisa mengubah anak-anak  tersebutdari kebiasaan menghirup    lem aibon untuk belajar. ‘’Jadi  guru yang harus  keluar  dari sekolah menemui mereka,’’ jelasnya.

   Saat ini, kata  dia, jumlahnya    sudah mencapai  270 orang anak  yang berada di sejumlah  titik di Kota Merauke. (ulo/tri)  

newsportal

Share
Published by
newsportal

Recent Posts

490 Daerah Tak Punya Uang untuk Bayar Gaji ASN

Karena itu, Kemenkeu saat ini tengah menghitung kebutuhan tambahan anggaran yang diperlukan untuk menambal kekurangan…

5 hours ago

Kodam Sebut Kevin Tewas Dalam Laka Tunggal

   Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Tri Purwanto, mengatakan penyelidikan dilakukan bersama Polres Jayapura…

6 hours ago

Kuasai Abepura, Agenda Demo Harus Terkendali

Kesiapan tersebut disampaikan langsung oleh Kapolsek Abepura, Kompol Paulus Hilapok. Ia mengonfirmasi bahwa pihak kepolisian…

7 hours ago

Hotel Boleh Sepi Sekarang, Tapi Jurusan Perhotelan Paling Banyak Diincar Siswa

   Ia menjelaskan, pembelajaran perhotelan di SNK Pariwisata Papua tidak berhenti di ruang kelas. Siswa…

8 hours ago

Yulianto: Banyak Masalah Tanah Belum Tuntas

​Ia mencontohkan salah satu bentuk ketidakberesan pelayanan pertanahan yang tengah ia tangani, seperti permohonan pengembalian…

9 hours ago

Hanya Bermodalkan Rp 500 Ribu, Makanan Basi Terdeteksi Lima Detik.

Dengan modal sekitar Rp 500 ribu, dua siswa kelas sembilan tersebut merancang alat yang dapat…

10 hours ago