Categories: MERAUKE

Cetak Sawah Baru di Sota Masih Terkendala Penolakan Warga

MERAUKE – Program cetak sawah baru di Distrik Sota, Kabupaten Merauke, masih menghadapi kendala berupa penolakan dari sebagian masyarakat. Penolakan tersebut dinilai terjadi karena masih kurangnya pemahaman warga terhadap tujuan, metode pelaksanaan, serta manfaat program.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Merauke Leo Patria Mogot menjelaskan,   secara administrasi kegiatan cetak sawah di Sota sebenarnya telah memasuki tahap pelaksanaan fisik. Namun, pekerjaan di lapangan belum dapat berjalan optimal karena masih diperlukan pendekatan dan sosialisasi kepada para pemilik lahan.

“Secara administrasi sebenarnya sudah masuk tahap pelaksanaan fisik. Tetapi karena masih memerlukan pendekatan lagi dengan masyarakat pemilik lahan, maka saat ini masih dilakukan tahap sosialisasi,” kata Leo Patria Mogot, di Merauke, Rabu  (1/7).

Ia menegaskan, penolakan yang terjadi bukan disebabkan adanya pemasangan tanda larangan atau aksi penolakan secara terbuka, melainkan karena masih adanya kesalahpahaman masyarakat mengenai program tersebut.

Menurutnya, sosialisasi pada tahap perencanaan, khususnya di wilayah Sota, belum berjalan maksimal sehingga memunculkan berbagai persepsi di masyarakat.  “Kalau saya lihat memang karena kurang sosialisasi. Masyarakat belum memahami tujuan, metode, dan fungsi program ini sehingga ada yang belum menerima atau menolak,” katanya.

Dalam program tersebut, pemerintah menargetkan pembukaan sekitar 1.900 hektare sawah baru di wilayah Sota. Lokasi yang dipilih berada di sekitar kawasan kampung dan berada di luar kawasan hutan lindung maupun kawasan konservasi.

Ia memastikan seluruh lokasi telah melalui kajian tata ruang dan regulasi kehutanan sehingga berada pada lahan berstatus Areal Penggunaan Lain (APL) yang diperbolehkan untuk kegiatan pertanian.

“Lokasinya berada di pinggir-pinggir kampung dan bukan di kawasan hutan lindung maupun kawasan konservasi. Dari sisi tata ruang dan regulasi kehutanan sudah kami cek, sehingga memang bisa dimanfaatkan,” jelasnya.

Meski demikian, pemerintah lanjut Leo Patria Mogot, masih menghormati aspirasi masyarakat dan terus melakukan pendekatan persuasif agar warga memahami bahwa program cetak sawah tidak mengambil alih hak kepemilikan tanah. (ulo/wen)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Pesawat Dibakar, Pilot Ditembak, Pelaku Langsung Berpose

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengklaim bertanggung…

2 hours ago

Marinus Yaung: KKB Tidak Akan Mendapat Dukungan dan Simpati Asing

Menurutnya para elit politik Papua di wilayah Papua Pegunungan, harus bisa membuka ruang-ruang komunikasi dengan…

3 hours ago

Presiden Perlu Evaluasi Operasi Keamanan di Papua

Menyikapi peristiwa itu, Kepala Komnas HAM RI Perwakilan Papua, Frits Ramandey, mengeluarkan pernyataan sikap yang…

4 hours ago

Singgung Demo Ditahan, Konvoi Bola Dibebaskan

Kepercayaan masyarakat merupakan modal utama bagi setiap institusi penegak hukum. Sekali kepercayaan itu tumbuh, masyarakat…

5 hours ago

Okto Disebut Sebagai Wakil Komandan TPNPB-OPM

Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, menjelaskan bahwa insiden tersebut bermula…

6 hours ago

Giliran Co-Pilot dari Pesawat Australia Dilimpahkan ke Jaksa

Erwin Natosmal Umar, kuasa hukum dari terdakwa kep[ada wartawan disela-sela pelimpahan itu  meminta agar penanganan…

8 hours ago