Categories: FEATURES

Benda Adat yang Sakral Bukan Diperoleh dari Jual Beli, BBKSDA Harus Merubah

Saat Tokoh Adat, Akademisi dan Aktivis Menanggapi Isu Satwa Cenderawasih
Polemik pembakaran Mahkota Cenderawasih memantik banyak reaksi. Para tokoh adat telah dan MRP telah bersuara mengecam tindakan tersebut. Pemerintah lewan menteri kehutanan juga sudah meminta maaf. Penegakan hukum positif ternyata bersinggungan dengan pengakuan nilai adat, budaya dan kearifan lokal

Laporan: Yohana dan Gamel_Sentani-Jayapura

Viralnya pembahasan mengenai pemusnahan mahkota burung Cenderawasih oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua menuai beragam reaksi dari masyarakat. Video yang beredar di media sosial memicu tanggapan dan bahkan kecaman dari berbagai kalangan.

Yang dilakukan BBKSDA dengan cara membakar dianggap salah dan itupun diakui oleh pihak BBKSDA. Alhasil sasaran tembak semua ditujukan ke gedung berwarna hijau di Kotaraja tersebut. Bahkan Menteri Kehutanan, Raja Juli harus menanggapi langsung dan menyampaikan permohonan maaf. Sebelumnya pihak BBKSDA lewat Kababesnya sudah menyampaikan langsung. Menurut sang menteri, konservasi tak hanya berbicara soal pelestarian tetapi juga mengamati perkembangan nilai-nilai di tengah masyarakat.

Ia mengaku bahwa pembakaran satwa Cenderawasih yang berbentuk mahkota adalah salah. Berbagai upaya juga dilakukan untuk meredam kemarahan publik. Termasuk menemui para pemangku kebijakan untuk menjelaskan duduk persoalannya. Dan berbagai tanggapan bermunculan. Ondoafi Kampung Sereh, Kabupaten Jayapura, Yanto Eluay menyampaikan bahwa ia juga kurang setuju dengan pembakaran yang dilakukan.

Meski begitu ia mengingatkan bahwa untuk menjaga kelestarian burung Cenderawasih dan menghentikan praktik jual beli mahkota burung tersebut maka harus dimulai dari kesadaran masyarakat sendiri. Ia tak menampik jika Mahkota Cenderawasih adalah mahkota raja milik ondoafi. “Seharusnya hanya digunakan oleh para ondoafi atau ondofolo atau kepala-kepala suku. Namun, karena faktor ekonomi, banyak masyarakat yang akhirnya memperjualbelikannya. Ini ironi juga,” jelasnya, Selasa (28/10).

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

22 Saksi Diperiksa, Kejati Dalami Dugaan Korupsi Proyek Jalan Dema-Fefero

Kepala Kejaksaan Tinggi Papua, melalui Ketua Tim Penyidik sekaligus Kepala Seksi Penuntutan Kejati Papua, Alfisius…

7 hours ago

Kursi Sekda Papua Memanas

Berdasarkan jadwal yang ditetapkan, pengumuman dan penerimaan berkas berlangsung pada 16-30 September 2026. Selanjutnya, seleksi…

14 hours ago

Mayat Seorang Wanita Ditemukan di Sekitar Kolam Buaya

Wanita tersebut diperkirakan sudah lanjut usia dan mengenakan jaket berwarna merah marone dan celana panjang…

15 hours ago

Orang Tua Siswa Minta Kampus Tegas

​"Sebenarnya aksi ini sudah berakhir beberapa hari lalu. Hanya karena kelalaian lembaga yang tidak mengakomodir…

16 hours ago

Ratusan Orang di Mimika Terinfeksi HIV-AIDS

Mayoritas penderita berjenis kelamin laki-laki sebanyak 109 orang, sedangkan perempuan tercatat 90 orang. Kepala Seksi…

17 hours ago

Pembangunan Kopdes Merah Putih Belum Menyentuh Kampung

Program pemerintah pusat dalam mendoro ekonomi masyarakat di kampung lewat Koperasi Desa Merah Putih (KDMP)…

18 hours ago