Ia menegaskan secara aturan, masyarakat memang tidak diperbolehkan memperjualbelikan mahkota burung Cenderawasih maupun Kasuari, apalagi memakainya secara bebas. Pasalnya Mahkota Burung Cenderawasih adalah lambang kebesaran dan kehormatan. Hanya boleh dikenakan oleh pemimpin adat, bukan untuk dijual. Tapi karena kebutuhan ekonomi, nilai sakral ini mulai dilanggar.
Yanto menambahkan, mahkota tersebut memiliki makna mendalam dalam budaya Papua. Selain sebagai simbol kekuasaan dan kehormatan, Mahkota Cenderawasih juga mencerminkan kekayaan dan keindahan alam Papua. Ia menegaskan bahwa penggunaannya diatur ketat oleh adat dan pelanggarannya dapat dikenai sanksi adat.
Menariknya disini anak dari Ondoafi (alm) Theys Hiyo Eluay ini mengatakan bahwa mahkota yang diperjual belikan bukan mahkota untuk ondoafi mengingat mahkota para ondoafi hanya diperoleh secara turun temurun. Bukan diperoleh dengan cara dibeli di pasar – pasar dengan bandrolan harga tertentu. “Mahkota kami didapat secara turun temurun, bukan mahkota beli,” bebernya.
Iapun berharap dari kejadian ini BBKSDA maupun publik bisa lebih memahami pesan dari konservasi dan pentingnya menjaga kelestarian Burung Cenderawasih. “Jangan lagi berburu burung itu, karena dari situlah upaya pelestarian bisa dimulai,” katanya.
Akses telekomunikasi di wilayah pelosok Kabupaten Keerom kini semakin terbuka lebar. Sebanyak 74 Base Transceiver…
Dalam arahannya, Noak Wasanggai menegaskan agar seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah…
Ia menegaskan bahwa arahan tersebut harus menjadi pedoman bagi para Kepala OPD di lingkungan Pemerintah…
Langkah tegas ini diambil sebagai bentuk deteksi dini guna mengantisipasi maraknya upaya penyelundupan barang…
Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, S.H., M.H., memberikan peringatan keras kepada seluruh aparat kelurahan…
Ketergantungan warga terhadap pertanian subsisten membuat kerusakan tanaman holtikultura berpotensi mengganggu ketersediaan pangan keluarga