Tepian pasir pantai yang dulunya aman, kini pelan – pelan hilang dan terjadi kemunduran bibir pantai. Malah beberapa waktu lalu dampak dari abrasi dan intrusi air laut membuat makam adat milik warga juga harus dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
Kata Yehuda abrasi terjadi tak lepas dari kondisi perubahan iklim dimana saat ini ketinggian air laut terlihat lebih tinggi. Selain itu kondisi angin membuat ombak menghantam pinggiran lebih kencang.
“Ini diperparah dengan zonasi vegetasi yang perlahan – lahan hilang akibat pembangunan tadi padahal ilalang atau semak dan rumpun lainnya di pinggir pantai ini memiliki fungsi masing – masing,” bebernya.
Kata Yehuda bila zonasi vegetasi ini hilang salah satu atau sebagian, maka itu akan memicu abrasi.
“Mengapa? Itu karena sistem perakaran vegetasi itu yang menjaga kestabilan morfologi pantai,” beber Yehuda.
Dengan vegetasi yang rusak, maka dosen Geografi ini ia tak heran jika muncul dampak lain diantaranya banyak pohon yang tumbang akibat abrasi maupun angin kencang. Yehuda merupakan salah satu dosen Uncen yang sudah bolak balik melakukan penelitian di lokasi teluk ini dan Ia menyebut solusinya yang bisa dilakukan ada dua cara, yaitu mitigasi struktural dan campuran.
“Mitigasi struktur yaitu dengan rekayasa sipil dengan membuat Jetty dengan bahan – bahan ramah lingkungan. Kedua, mitigasi campuran yaitu disetiap Jeti juga ditanam kembali beragam vegetasi akar dalam sepanjang pesisir Holtekamp,” tutupnya.
Menurutnya, jika dilihat kondisi teluk maka sifat fisik atau tipologinya tergolong pesisir sekunder. Artinya pesisir ini dibentuk oleh sedimentasi dari darat dan dari laut pada masa lalu dan kestabilannya dikontrol oleh beragam jenis tumbuhan dengan tingkat kerapatan vegetasi yang berbeda – beda.
“Jenis vegetasi pesisir itu dapat dilihat dari tipologi vegetasi tajuk vegetasinya. Ada tipologi tajuk membentuk piramida yang artinya jenis rambatan selalu berada di depan arus pantai kemudian diikuti jenis perdu, pandanus, palm, kayu – kayu dengan system akar dalam.
“Setelah itu turun lagi ke jenis palm, pandanus, perdu dan rambatan hingga rawa belakang. Itu zonasi vegetasi pesisir Holtekamp dan Skouw yang menjadi hasil studi saya sejak tahun 2019 lalu,” katanya.
Jadi apabila zonasi vegetasi ini hilang salah satu atau sebagian, maka ketika musim ombak dan air pasang maka ini akan memicu abrasi.
“Mengapa? Karena sistem perakaran vegetasi itu yang menjaga kestabilan morfologi pantai. Bila vegetasi akar dalam jenis kayu-kayuan seperti bintangur, ketapang, cemara sudah habis ditebang, maka itu menganggu kemampuannya menahan abrasi dan intrusi air laut,” imbuhnya.
Proses seleksi tak lagi mewajibkan hadir di dalam kelas untuk ujian tulis bersampul kertas.…
Persipura Jayapura resmi merekrut penyerang baru, Lazarus Sinim. Pemain muda yang bersinar pada Liga 4…
Kepala Bidang Pajak Bapenda Provinsi Papua Ardi, mengatakan capaian tersebut menunjukkan kontribusi penerimaan opsen…
Berdasar data yang diterima oleh awak media dari Leonardo, M-346 F Block 20 merupakan varian…
Puncak peringatan HAN dibuka secara resmi oleh Wakil Wali Kota Jayapura, Dr. Ir. H.…
Polri menegaskan bahwa personel Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) tidak memiliki kewenangan untuk…