Categories: FEATURES

Sempat Gugup Lewati Zona Merah, Namun Terbayar Oleh Senyum Bocah di Serambakon

Ia terkesan dengan kecerdasan dan semangat anak-anak Kiwirok. Meski hidup di daerah terisolir, mereka memiliki daya ingat dan pengetahuan yang tak kalah dengan anak-anak di kota. Misalnya, mereka dengan lantang menjawab pertanyaan tentang Pancasila dan sejarah Indonesia. Ita melihat potensi besar dalam diri mereka, yang hanya membutuhkan dukungan dan kesempatan untuk berkembang.

Tugas Ita tidak berhenti di Kiwirok. Pada tahun 2024, ia juga ditugaskan sebagai agen trauma healing di SD Serambakon, Distrik Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintan Papua Pegunungan. Perjalanan menuju Oksibil tidaklah mudah. Ita dan tim harus melewati hutan belantara Papua Pegunungan dengan medan yang terjal dan berbahaya. Bahkan, mereka harus melintasi zona merah yang sering dilalui oleh KKB.

“Pada satu titik, kami berhenti untuk minum di tempat yang merupakan zona merah. Rasa takut dan cemas menghantui saya, tapi saya berusaha melawan rasa takut itu karena ingin melihat senyum anak-anak SD Sarambakon,” ceritanya.

Ketika tiba di SD Serambakon, Ita kembali dikejutkan oleh keramahan dan semangat anak-anak di sana. Mereka menyambutnya dengan sukacita, seolah kehadirannya membawa angin segar bagi kehidupan mereka. Bahkan, saat Ita kembali ke Oksibil pada awal tahun 2025, anak-anak SD Serambakon masih mengingatnya.

“Kaka yang kemarin datang di sekolah kami, ya?” teriak salah seorang anak. Ita pun terharu dan semakin yakin bahwa anak-anak Papua memiliki semangat pendidikan yang tinggi, meski hidup dalam keterbatasan. “Darisini kita tau bahwa anak anak Papua itu hebat dan luar biasa,” tegasnya.

Selama lebih dari satu tahun bertugas di Papua, Ita telah mengunjungi berbagai daerah, termasuk Papua Induk dan Papua Tengah. Ia menemukan bahwa masyarakat Papua, terutama yang tinggal di pedalaman, memiliki kerendahan hati dan keramahan yang luar biasa. Meski parasnya berbeda dengan orang asli Papua (OAP), Ita tidak pernah mendapat ancaman atau penolakan.

“Bahkan, saya duduk bersama mereka di honai, di pasar pasar, makan pinang dan bercengkerama. Saya salut dengan keramahan mereka,” ujar Ita. Ia percaya bahwa masyarakat Papua memiliki masa depan yang cerah, asalkan mereka mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, terutama dalam hal keamanan dan infrastruktur. “Masyarakat Papua punya harapan yang sama seperti masyarakat lain di Indonesia. Mereka hanya butuh dukungan,” tegasnya.

Bagi Ita, tugasnya sebagai agen trauma healing bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan hati. Ia berharap dapat terus membantu anak-anak dan masyarakat Papua, bahkan setelah masa tugasnya di Satgas ODC berakhir pada Desember 2025.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Recent Posts

Bupati Gusbager Yakin Sirkuit Keerom Lahirkan Pembalap Hebat

Kejuaran Daerah Bupati Keerom Cup Series II Motocross dan Grasstrack Tahun 2026 memberikan banyak cerita.…

6 hours ago

Komitmen Tingkatkan Integritas dan Pelayanan Publik

Menurut Rahmat, esensi perjuangan tahun 1908 sangat relevan dengan kondisi penegakan hukum modern saat ini.…

7 hours ago

Mayat Pria Ditemukan di Perumahan Sosial, Penyebab Kematian Masih Ditelusuri

Kapolres Jayapura AKBP Dionisius V.D.P. Helan, melalui Kasat Reskrim AKP Axel Panggabean, mengatakan korban diketahui…

7 hours ago

Disayangkan, Perlakuan Oknum Taksi Bandara Cek Ponsel Penumpang

Salah seorang warga Kota Jayapura, Silas menyayangkan perlakuan kurang menyenangkan saat berada di kawasan Bandara…

8 hours ago

TNPB-OPM Terus Tebar Ancaman

Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, menyatakan aksi pembakaran dilakukan saat operasi kelompok tersebut berlangsung di…

8 hours ago

Nekat Menjambret, Dua Pelajar Dibekuk Tim Resmob

"Modus yang digunakan pelaku yakni menabrak korban hingga terjatuh, kemudian mengambil handphone milik korban dan…

9 hours ago