Categories: FEATURES

Kaget Saat Lukisan Baru 50 Persen, Rhoma Irama Langsung Datang

Sosok Seniman Kampung Pasuruan di Balik Lukisan Fenomenal ‘Satria Bergitar’

Tak banyak yang menyangka, lukisan “Satria Bergitar” yang selama ini melekat kuat pada sosok Rhoma Irama, ternyata lahir dari tangan seorang pelukis kampung di Pasuruan. Bukan dari studio besar di ibu kota, melainkan dari sebuah ujung gang sederhana yang kini dikenal sebagai Gang Wolu Artspace.

Laporan: Muhamad Busthomi, Grati_Radar Bromo

Gang itu tidak lebar. Tak ada penunjuk arah mencolok, apalagi galeri megah dengan dinding putih dan lampu sorot. Namun dari sanalah, di sebuah sudut kampung yang akrab dengan suara sapa warga, lahir satu karya yang diam-diam telah menjelma ikon lukisan “Satria Bergitar” milik Rhoma Irama.

Pelukisnya Badrie. Ia menyebut diri sebagai “pelukis kampung”. Tetapi justru dari kesederhanaan itu, muncul kedalaman yang membuat karya-karyanya hidup. Mempertemukan rasa, pengalaman, dan kedekatan dengan objek yang dilukis. Di tempat yang kini dikenal sebagai Gang Wolu Artspace cerita itu bermula. Bukan galeri pribadi yang mengusung nama besar, melainkan ruang bersama yang lahir dari keinginan untuk tetap membumi.

Dekat dengan masyarakat, dengan anak-anak, dengan kehidupan sehari-hari yang riuh sekaligus hangat. “Saya ini pelukis kampung. Nggak pernah berpikir karya saya lebih besar dari saya,” ujar Badrie saat ditemui di Gang Wolu Artspace Kedawung Kulon, Kecamatan Grati, pekan lalu.Cerita bermula dari jejaring pertemanan yang tak direncanakan. Seorang kawan lama bernama Yusuf—alumnus Tebuireng—menjadi penghubung.

Dari relasi itu, Badrie yang semula memiliki gagasan membangun Museum NU justru menemukan jalan lain: bertemu dengan Rhoma Irama. “Dari situ dikenalkan. Langsung order,” ujar Badrie singkat. Tak ada portofolio panjang yang dipresentasikan. Bahkan, sang Raja Dangdut belum pernah melihat karya Badrie sebelumnya. Hanya satu lukisan contoh yang dijadikan sampel, cukup untuk memantik kepercayaan.

Pesanan pertama melukis “Satria Bergitar”. Referensi awal berupa poster film tidak serta-merta menjadi acuan baku. Badrie justru melihat celah untuk memperkuat karakter visual. Dalam gambar asli, kuda menghadap ke depan. Badrie mengubahnya menjadi tampak samping. Tujuannya untuk menghadirkan kesan lebih heroik. “Kalau targetnya satria, ya harus terasa gagah,” katanya.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Pengalihan ASN ke Kementerian Jadi Solusi Tekan Belanja Pegawai

Wacana redistribusi atau pengalihan sebagian Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Provinsi Papua ke kementerian dan…

1 hour ago

Warga Diminta Waspadai Kejahatan di Ruang Digital

  Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Papua, Jeri Agus Yudianto menyampaikan, platform seperti WhatsApp,…

2 hours ago

Wali Kota: Bangun Tempat Ibadah Butuh Komitmen Moral

Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo menghadiri sekaligus melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gereja Oikumene…

3 hours ago

Nggam Bu, Pesona Air Biru yang Dijaga Masyarakat Adat

Airnya sebening kaca dengan gradasi biru kehijauan. Dasar sungai tidak terlihat jelas, sementara pepohonan rindang…

4 hours ago

Semarakkan HUT ke-81 RI, Pemkot Siapkan Konvoi Merah Putih

  Konvoi yang menjadi salah satu agenda resmi HUT RI tingkat Kota Jayapura ini akan…

5 hours ago

Minimnya Anggaran hingga Maraknya Tambang Ilegal Jadi Sorotan

Rapat kerja Komisi IV DPR Papua bersama Dinas ESDM Provinsi Papua di ruang rapat Komisi…

6 hours ago