Categories: FEATURES

Kaget Saat Lukisan Baru 50 Persen, Rhoma Irama Langsung Datang

Pendekatan tersebut menjadi pembeda. Lukisan tidak berhenti sebagai reproduksi tetapi menjelma karya baru dengan energi yang berbeda. Separo proses dilakukan di Pasuruan. Ketika progres mencapai sekitar 25–50 persen, Rhoma Irama datang langsung melihat. Dari situ, Badrie mendapat undangan melanjutkan pekerjaan di Studio Soneta, Jakarta. Di sanalah proses berubah menjadi lebih dalam.Selama lebih dari sepekan, Badrie tidak hanya melukis. Ia mengamati, berdialog, dan menyerap karakter sosok yang dilukis. Referensi foto yang sebelumnya digunakan terasa belum cukup.

“Kalau cuma dari gambar, kita nggak dapat kesehariannya,” ujarnya. Interaksi berlangsung intens. Percakapan, pengamatan, hingga pemotretan ulang untuk menangkap detail wajah yang lebih presisi. Detail menjadi obsesi. Cincin yang tergambar dalam lukisan bukan sekadar properti. Itu cincin asli milik Rhoma Irama, dipinjamkan khusus untuk dilukis. Gitar yang digenggam juga bukan sembarang gitar. Semua harus otentik.

Presisi menjadi prinsip utama. Bagi Badrie, pelukis realis tidak hanya meniru bentuk, tetapi menghadirkan jiwa. Di balik proses teknis, ada pengalaman yang lebih personal. Interaksi yang intens dengan Rhoma Irama membuka ruang percakapan yang tidak hanya soal seni, tetapi juga agama dan kehidupan. Dari situ, Badrie merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Suatu malam, pengalaman ganjil terjadi. Terbangun dari tidur dalam keadaan menangis, tanpa sebab yang jelas. Lalu menulis puisi panjang, mengalir tanpa jeda. Bagi Badrie, momen itu menjadi bagian dari perjalanan kreatif yang tak terpisahkan. Melukis, pada akhirnya bukan sekadar kerja visual. Tetapi juga perjalanan batin.

“Harus jatuh cinta dulu dengan objek yang mau saya lukis,” ucapnya. Lukisan “Satria Bergitar” akhirnya rampung. Respons yang diterima melampaui ekspektasi. Karya tersebut tidak hanya menjadi potret. Namun simbol—tentang sosok pendekar, musisi, sekaligus figur religius.“Siapa yang pengin tahu siapa Rhoma, tanya Badrie. Beliau bilang begitu setelah lihat lukisannya,” kata Badrie.

Sekali waktu, Badrie iseng melukis Rhoma dengan gestur yang santai. Tapi tampaknya, lukisan itu kurang berkesan. “Mbok aku dilukis pas action, mangap begitu loh,” kata Badrie menirukan ucapan Rhoma. Tak lama setelah itu, pesanan baru kembali datang. Rhoma Irama menginginkan dua lukisan tambahan. Salah satunya menggambarkan dirinya saat tampil di atas panggung, dalam posisi “action”, ekspresif, bahkan dengan mulut terbuka saat bernyanyi.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Perempuan dan Anak Paling Rentan Jadi Korban Konflik

Suara Perempuan Papua Bersatu menggelar mimbar bebas di Lingkaran Abepura, Kamis (30/4). Sejumlah aspirasi dari…

6 hours ago

Marak Aksi Demo, Wali Kota Gandeng Tokoh Masyarakat dan Adat

Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, menggandeng sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh adat untuk bersama-sama mengimbau…

7 hours ago

Buruh Papua Desak Pembentukan Satgas PHK

Ketua KSPI Papua, Benyamin Eduard Inuri, mengatakan bahwa aksi tersebut merupakan bagian dari gerakan serentak…

8 hours ago

Pengelolaan Dana Hibah Harus Transparan dan Akuntabel

Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan bantuan pemerintah. Sosialisasi…

9 hours ago

Ritel Modern Diminta Serap Tenaga Kerja OAP dan Pasarkan Produk Lokal

Pemerintah Kota Jayapura mendorong pengelola ritel modern untuk memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah,…

10 hours ago

Laga Pamungkas

Nah sebagai tim tanpa beban ini justru kadang menjadi ancaman bagi kubu tuan rumah karena…

1 day ago