Maklon Woru ini satu dari sekian banyak pendulang di Kali Anafre. Ia menjelaskan, bahwa emas yang mereka cari tidak langsung didapat dari sungai, melainkan dari tanah yang dibawa dari lereng Gajah Putih di Kelurahan Polimak, Distrik Jayapura Utara.
“Tanah itu kami gali pakai skop, dimasukkan ke dalam karung kecil, lalu diangkut ke sini (Kali Anafre) untuk didulang,” ungkapnya.
Aktivitas mereka sangat teratur. Pagi hingga siang hari mereka mendulang, sore harinya mereka mencangkul tanah di Gajah Putih, dan malamnya mengangkut karung-karung tanah menggunakan mobil pickup menuju lokasi pendulangan. Setiap hari, para pendulang ini bisa membawa 20 hingga 50 karung tanah, tergantung kemampuan fisik masing-masing.
“Kalau sudah disini (kali) harus dijaga, karena sering juga hilang,” ujarnya.
Proses mendulang bukan perkara mudah. Butuh kesabaran dan ketelitian tinggi. Tanah dari karung dituangkan ke wajan, lalu diremukkan dengan air.
“Harus pelan, tanah itu kita hancurkan sampai lepas dari butiran kasar. Nanti air bawa pergi tanahnya, yang berat akan tinggal,” jelas Maklon.
Wajan direndam perlahan di air, diselaraskan dengan aliran agar tanah tak tumpah atau hanyur semua. Proses ini bisa diulang 4-5 kali hingga tersisa serpihan pasir berwarna hitam. Bukan emas, tapi sisa mineral berat yang menjadi indikator adanya kandungan logam mulia.
Serpihan hitam itu dikumpulkan dalam wadah. Lalu lanjut dengan proses remuk tanah pada karung yang lain hingga maksimal 10 karung tanah. “Tidak bisa hanya satu karung, kalau hanya satu karung, tidak akan dapat emas, minimal 10 karung baru kita dapat dan itu sudah pasti,” kata Maklon.
Dalam 10 karung tanah ini, prosesnya sama, tahap pertama proses peremukan, kemudian pengendapan pasir hingga tersisah pasir hitam. Setelah semua karung diproses dan menghasilkan pasir hitam, barulah tahap penggosokan dimulai.
“Seperti menggosok wajan dengan sabun, tapi kali ini isinya pasir digosok perlahan hingga halus, lalu wajan digoyang dengan sangat hati-hati. Hingga serpihan emas dengan pasir hitam terpisah.
“Serpihan emas itu kecil saja, seukuran pasir atau pecahan kaca. Kadang, kalau beruntung, bisa seukuran biji cabe, tapi itu jarang, kita dapatkan,” bebernya.
-Regulasi Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) di tingkat kampung di Papua belum merata. Dari 1.029…
Penggunaan kembali prasarana penyeberangan ini disambut dengan rasa lega yang mendalam oleh masyarakat Abepura,…
Langkah ini menyusul keberhasilan evakuasi salah seorang korban selamat, Demerina Uamang (23), yang sempat diamankan…
Ketua HONAI, Pdt. Andrikus Mofu, menegaskan gereja tidak ingin masyarakat terus menjadi korban kekerasan, kehilangan…
Ia ditemukan tewas dengan kondisi terbakar bersama mobilnya. Yang bikin heboh adalah, sebelum dieksekusi, ia…
Kepala Komnas HAM Papua, Frits Ramandey menduga aksi yang berlangsung di sejumlah daerah tersebut tidak…