Categories: FEATURES

Bangun Kepercayaan Masyarakat Papua Lewat Pendekatan Budaya, Agama dan Kesetaraan

Lebih Dekat dengan Pangdam XVII/Cenderawasih yang Baru Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang

Sejak Kamis (2/4) lalu, tongkat komando Kodam XVII/Cenderawasih resmi berada di tangan Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang. Ia menggantikan Mayjen TNI Amrin Ibrahim usai prosesi serah terima jabatan (Sertijab) dan tradisi korps yang menandai dimulainya kepemimpinannya di Bumi Cenderawasih.

Laporan: Karolus Daot_Jayapura

Siang itu, Rabu (15/4), suasana di Makodam XVII/Cenderawasih terasa berbeda. Tidak ada kesan kaku yang biasanya menyelimuti markas militer. Di balik seragam loreng dengan dua bintang di pundak, Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang menyambut dengan gurauan ringan yang seketika meruntuhkan sekat protokoler.

Baru dua pekan sejak ia resmi memegang tongkat komando pada 2 April 2026, menggantikan Mayjen TNI Amrin Ibrahim, Febriel tampak sudah begitu menyatu dengan ritme Bumi Cenderawasih. Wawancara yang semula direncanakan singkat, justru berkembang menjadi perbincangan hangat lebih dari satu jam.

Lahir di Ujung Pandang (kini Makassar), perjalanan hidup Mayjen Febriel tidak lepas dari latar belakang keluarga sederhana. Ayahnya seorang anggota Brimob, sementara ibunya juga berprofesi sebagai polisi sekaligus bidan.

Motivasi awalnya masuk militer bukan semata-mata cita-cita sejak kecil, melainkan juga pertimbangan ekonomi keluarga. “Waktu itu kakak-kakak saya masih kuliah semua. Saya berpikir kalau ikut kuliah juga, orang tua akan semakin terbebani. Jadi saya mencari jalan yang bisa dibiayai negara, salah satunya lewat Akmil,” kenangnya dengan tatapan mata yang menerawang, seolah kembali ke masa remaja di Makassar.

Keputusan itu menjadi titik balik. Ia diterima sebagai taruna Akademi Militer tahun 1995, sebuah langkah yang kemudian mengantarkannya menapaki karier gemilang di tubuh TNI Angkatan Darat.

Sebagian besar perjalanan awal kariernya ditempa di satuan elite Kostrad, khususnya di Brigade Lintas Udara 18/Trisula dan Batalyon 501. Di sana, ia merasakan langsung kerasnya kehidupan prajurit lapangan. Intensitas latihan dan penugasan yang tinggi menjadi pengalaman paling berkesan.

“Kalau tidak latihan, ya penugasan. Itu yang membuat prajurit Kostrad benar-benar matang, baik secara fisik maupun mental,” katanya.

Pengalaman tersebut membentuk karakter kepemimpinan yang kuat dan adaptif, yang kini ia bawa dalam memimpin Kodam XVII/Cenderawasih. Perjalanan kariernya kemudian melesat stabil. Deretan jabatan strategis seperti Danrem 161/Wira Sakti di NTT, Waasops Panglima TNI, hingga Irdam XII/Tanjungpura di Kalimantan, memberinya jam terbang yang mumpuni dalam menangani wilayah perbatasan. Tak heran, berbagai brevet internasional pun disematkan di dadanya, mulai dari Air Assault Badge hingga Basic Parachutist Badge dari US Army.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

BGN Sikat Rekening Janggal di 414 SPPG

Badan Gizi Nasional (BGN) mengembalikan Rp311,2 miliar ke kas negara setelah menemukan anomali pada 414…

6 hours ago

Siap-siap, Puncak Kemarau 2026 Tiba

Kondisi ini diperkirakan kian mengkhawatirkan karena potensi aktifnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada…

8 hours ago

490 Daerah Tak Punya Uang untuk Bayar Gaji ASN

Karena itu, Kemenkeu saat ini tengah menghitung kebutuhan tambahan anggaran yang diperlukan untuk menambal kekurangan…

1 day ago

Kodam Sebut Kevin Tewas Dalam Laka Tunggal

   Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Tri Purwanto, mengatakan penyelidikan dilakukan bersama Polres Jayapura…

1 day ago

Kuasai Abepura, Agenda Demo Harus Terkendali

Kesiapan tersebut disampaikan langsung oleh Kapolsek Abepura, Kompol Paulus Hilapok. Ia mengonfirmasi bahwa pihak kepolisian…

1 day ago

Hotel Boleh Sepi Sekarang, Tapi Jurusan Perhotelan Paling Banyak Diincar Siswa

   Ia menjelaskan, pembelajaran perhotelan di SNK Pariwisata Papua tidak berhenti di ruang kelas. Siswa…

1 day ago