Categories: FEATURES

Rumah Dibangun Tahun 1921 Jadi Saksi Bisu Sebelum Indonesia Merdeka

Cerita Warga Alastlogo Lekok Gotong Royong Menyelamatkan Sejarah Desa lewat Sebuah Rumah Tua

Di tengah penyelesaian sengketa agraria, warga Alastlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, bergotong royong memugar rumah kepala desa era kolonial. Bukan untuk menghapus jejak. Justru untuk mempertahankan penanda sejarah yang sulit dibantah bahwa desa mereka sudah ada sejak masa pemerintahan Hindia Belanda.

Laporan: Muhammad Busthomi_Radar Bromo

PAPAN demi papan dilepas perlahan. Genting-genting tua diturunkan dari atap yang mulai rapuh. Beberapa warga memanjat rangka bangunan yang sudah dimakan usia. Yang lain berdiri di bawah, menerima kayu-kayu lama dengan hati-hati, seolah takut menjatuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar material bangunan. Tak ada alat berat. Tak ada pembongkaran tergesa-gesa. Puluhan warga Desa Alastlogo, Kecamatan Lekok, mengerjakannya bersama-sama dengan penuh perhitungan.

Mereka membongkar sebuah rumah tua. Bukan untuk merenovasi menjadi bentuk baru yang berbeda. Namun memugar bangunan itu untuk menyelamatkannya.Yaitu, memperbaiki kondisi bangunan agar mendekati bentuk dan fungsi aslinya tanpa menghilangkan nilai sejarah, arsitektur, atau karakter bangunan.

Menurut catatan keluarga dan cerita turun-temurun, rumah tersebut adalah kediaman Sarwan atau lebih dikenal warga sebagai Harun Singorejo. Dia Kepala Desa Alastlogo sejak 1921 hingga 1942. Jauh sebelum republik ini berdiri. “Rumah ini saksi bisu sejarah tanah di Alastlogo. Karena bangunannya sudah sangat tua dan perlu direvitalisasi, akhirnya warga berinisiatif memperbaikinya,” ujar Azmar Hidayat, tokoh pemuda Alastlogo.

Azmar bukan orang luar. Ia menantu keluarga ahli waris. Mertuanya, Sulyadi adalah generasi ketiga keturunan Harun Singorejo.Bagi warga, bangunan itu lebih dari sekadar rumah tua. Ia adalah saksi bahwa kehidupan di desa itu sudah ada, bahkan sebelum kemerdekaan. Ia juga jadi saksi bahwa masyarakat telah hidup, beranak-pinak, bertani, dan membangun kehidupan jauh sebelum batas-batas tanah mulai diperdebatkan.

Harun Singorejo juga lebih dari sekadar pejabat administratif. Bagi warga tua Alastlogo, ia adalah tokoh kampung. Ia tempat masyarakat meminta pertimbangan. Tempat persoalan desa dibicarakan. Sosok yang dihormati sekaligus dituakan. Dari rumah itulah urusan pertanian, keamanan kampung, hingga kehidupan sosial masyarakat dikelola. Cerita yang diwariskan keluarga tidak berhenti di situ. Harun Singorejo juga disebut terlibat dalam perjuangan kemerdekaan. Masuk Laskar Hizbullah dan ikut dalam perlawanan di Surabaya.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Indentifikasi Jalur Penyelundupan hingga Dugaan Keterlibatan Oknum Petugas

  Langkah tegas ini diambil sebagai bentuk deteksi dini guna mengantisipasi maraknya upaya penyelundupan barang…

8 hours ago

ABR: Jangan Salah Gunakan Bantuan Pemerintah!

Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, S.H., M.H., memberikan peringatan keras kepada seluruh aparat kelurahan…

9 hours ago

Fenomena El Nino,  79 Kampung di Dogiyai Terdampak

Ketergantungan warga terhadap pertanian subsisten membuat kerusakan tanaman holtikultura berpotensi mengganggu ketersediaan pangan keluarga

11 hours ago

Jangan Membangun Sebelum Ada Penanganan Pascabencana

  Abisai mengatakan, Pemerintah Kota Jayapura saat ini masih melakukan berbagai upaya dan pembahasan terkait…

12 hours ago

Polisi Tangkap Terduga Pelaku Penipuan Jual Beli Motor

Kapolres Jayapura AKBP Dionisius VDP Helan melalui Kasat Reskrim Polres Jayapura AKP Axel Panggabean mengatakan,…

13 hours ago

Bupati Jayawijaya: CASN Jangan Buru-buru Ajukan Kredit Setelah Terima SK

Bupati menegaskan jika, mereka baru juga diangkat CASN masih ada langkah selanjutnya yang harus diikuti…

15 hours ago