Mungkin itulah sebabnya warga rela bergotong royong membongkar rumah tua itu. Papan per papan, genting per genting, dengan tangan sendiri. Mereka sadar sengketa agraria tidak selesai hanya dengan satu bangunan. Tapi rumah itu menyimpan sesuatu yang tidak kalah penting dari dokumen mana pun. Ingatan tentang sebuah desa yang sudah ada sebelum republik berdiri. Tentang seorang kepala desa yang pernah memimpin masyarakat di sana. Tentang generasi-generasi yang lahir, hidup, dan meninggal di tanah yang sama.
Karena itulah ketika papan-papan tua dilepas dan genting satu per satu diturunkan, warga tidak merasa sedang merobohkan sebuah rumah. Mereka sedang menyelamatkan sejarah. (hn)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Kenapa Minuman Manis Kurang Tepat Saat Haus? Saat cuaca panas, tubuh kehilangan banyak cairan melalui…
Puluhan personel gabungan dikerahkan, melibatkan Brimob Batalyon B Polda Papua Tengah, Satuan Sabhara, Satuan Narkoba,…
Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni menilai Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menunjukan sikap…
Petugas membuntuti TN sejak dari pos penyekatan di wilayah Kwamki Narama sebelum akhirnya menyergap pelaku…
Tuntutan para pendemo tersebut sama dengan aksi demo sebelumnya yang menolak Program Strategis Nasional serta…
Operasi penertiban yang dimulai pukul 11.12 WIT tersebut dipimpin oleh Kabag Ops Polres Mimika AKP…