Categories: FEATURES

Mata Hati Tertutup Kabut Kepentingan Kekuasaan, Muaranya Politik Amoral

  Normalitas alam kehidupan segera berubah menjadi ekstremitas ketika sementara anggota masyarakat merusak alam. Olengnya alam menjadikan kehidupan berada dalam situasi turbulensi, seperti, banjir, tanah longsor, gempa dan sebagainya. Robohnya kehidupan itu telah menjadi kenyataan, membawa korban jiwa, maupun harta benda.

  “Perpolitikan di negeri ini pada ranah praktis, sepadan dengan olengnya alam itu. Politik yang dalam keotentikannya bagus, elegan, dan mulia, namun dalam perjalanan berubah menjadi turbulensi sosial kebangsaan,” kata Husni, saat orasi ilmiah  pada  rapat senat terbuka Uninggrat Papua, Jumat (8/3) lalu.

  Bahkan menurut dia hampir semua warga negara dan penyelenggara negara terlibat dan terimbas oleh turbulensi politik. Walaupun ada sebagian orang berhasil mengamankan diri. Daya pengendalian dirinya luar biasa. Tidak mempan digosok dan digesek oleh politikus politikus serakah.

   Hidup bernegara sebenarnya tak ubahnya keluarga. Rumah dan kehidupannya perlu cahaya indah. Cahaya dimaksud berupa nilai nilai moralitas Pancasila. Pancasila dipraktikkan dalam keseharian.

  Hubungan diantara semua entitas terjalin akrab, hangat, menyehatkan. Itulah jalinan pansubjektivitas. Semua saling hormat menghormati. Sungguh ditabukan mengobjekkan pihak manapun, betapapun posisinya pihak lain itu lebih rendah.

  Politik mestinya menjadi sarana untuk mengisi kehidupan bernegara dengan cahaya moralitas Pancasila. Sejarah nasional telah mengajarkan bahwa melalaikan Pancasila dalam berpolitik hanya menghadirkan perpecahan bahkan korban.

   “Sungguh celaka, ketika mata kepala mampu melihat realitas historis, tetapi mata hati tertutup kabut kepentingan kekuasaan. Muaranya, politik ekstrem, amoral dipraktikkannya.”ungkapnya.

   Di tengah-tengah ekstremnya cuaca politik, amat diapresiasi orang-orang yang istiqomah di jalur moralitas Pancasila. Orang- orang langka ini, melalui ketekunannya selalu berupaya men- cerahkan suasana keluarga, sahabat dan lingkungannya. Semua orang, disayangi siapapun bersalah, dimaafkan. Tiada kata-kata ataupun perilaku kasar, kecuali sopan-santun, senyum, sapa kehangatan.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Kehadiran Kodim 1707/Merauke Bentuk Komitmen Bangun Berkebangsaan

‘’Ada komitmen bersama untuk membangun bangsa dan negara. Dan juga kehadiran kodim 1707 Merauke tentu…

13 hours ago

Akhirnya Kampung Karya Bumi Punya TPU Sendiri

Kepala Kampung Karya Bumi, Muryani, menjelaskan bahwa lahan pemakaman umum tersebut dibeli dari pemilik tanah…

14 hours ago

Lampaui Target, Tahun ini Bulog Merauke Ditargetkan Pengadaan 27.000 Ton

Pimpinan Cabang Perum Bulog Merauke Karennu ditemui media ini mengungkapkan, di tahun 2025 lalu, pihaknya…

14 hours ago

Propam Polres Jayawijaya Gelar Gaktiplin

Kapolres Jayawijaya melalui Plt. Kasie Propam Aiptu Frans Risamau hari ini dilakukan Gaktiplin bagi setiap…

15 hours ago

Pertemuan Presiden Prabowo dengan Raja Charles III

“Bapak Presiden bertemu dengan Raja Charles ke-3. Kemudian intinya adalah ada kerja sama dan komitmen…

15 hours ago

Pemkab Jayawijaya Bakal Dorong Aturan LMA Jadi Perda

Bupati Jayawijaya Atenius Murib, SH, MH menyatakan masalah saling serang diantara masyarakat yang dipicu dari…

16 hours ago