“Ancaman KKB nyata dalam bentuk kekerasan, tetapi KKP menyerang melalui ideologi dan kesadaran generasi muda Papua. Ini justru lebih berbahaya dalam jangka panjang karena dilakukan melalui proses kaderisasi, agitasi intelektual, dan pembentukan narasi tandingan terhadap negara,” ungkap Faizal.
Ia menyebut bahwa KKP memiliki jaringan luas, baik di dalam maupun luar negeri. Organisasi seperti Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) menjadi ujung tombak dalam menyuarakan agenda separatisme melalui lobi internasional maupun diaspora mahasiswa Papua di luar negeri.
Di dalam negeri, pengaruh kelompok ini masuk melalui jaringan mahasiswa seperti Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) yang tersebar di berbagai kota studi. Menurut Brigjen Faizal, kelompok ini kerap memanfaatkan isu-isu sensitif untuk menggiring opini publik, seperti rasisme, pelanggaran HAM, hingga penolakan terhadap program strategis pemerintah seperti ketahanan pangan, makan bergizi gratis, dan pemekaran daerah otonomi baru.
“Banyak disinformasi dan narasi provokatif yang menyebut program-program pemerintah sebagai bentuk penjajahan baru. Padahal, program tersebut dirancang untuk menyejahterakan masyarakat Papua,” ujarnya.
Aiptu Yunus Maturutty menjelaskan, awalnya pelaku diduga melakukan persetubuhan atau rudakpaksa terhadap korban sesuai laporan…
Plt Direktur RSUD Jayapura, Andreas Pekey mengatakan, kasus terbaru terjadi pada 16 Desember 2025.…
Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze mengatakan belum mendapatkan data terakhir sudah berapa sekolah yang telah…
Ardhiana mengatakan, keempat ekor burung tersebut diangkut secara ilegal dan tidak diketahui identitas pemiliknya. Ia…
Pengelola APMS Putra Baliem Mandiri Magi Pasaribu menegaskan putusan hukum tertinggi itu bersifat final dan…
Kota Jayapura jadi penyelenggara setelah mendapat kepercayaan dari The Japan Foundation Jakarta. Dalam festival…