Categories: BERITA UTAMA

Dianggap Tak Berperan Aktif Dalam Penyelamatan Pilot

JAYAPURA – Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dianggap tak berperan aktif terhadap penyelamatan Pilot Susi Air, Kapten Philip Mark Merthens yang disandera kelompok kriminal bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya di Paro, Kabupaten Nduga sejak 7 Februari lalu.

Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (Pembela Ham) Theo Hesegem mengatakan, upaya pembebasan sandera terus memakan korban. Baik korban dari warga sipil maupun TNI-Polri sejak penyanderaan yang terjadi pada 7 Februari.

Theo menilai, Pemerintah Provinsi Pegunungan Tengah memilih diam tak pernah bersuara mengambil langka.

“Sementara kita tahu bahwa, persoalan penyanderaan seorang pilot adalah persoalan antar negara. Bukan persoalan rumah tangga. Sehingga itu, Pj.Gubernur Provinsi Papua Pegunungan sebagai kepala daerah punya kewajiban mengambil langka dan inisiatif terkait misi penyelamatan seorang pilot,” tegas Theo sebagaimana rilis yang dikirimnya kepada Cenderawasih Pos, Rabu (19/4).

Menurut Theo, Pemerintah Provinsi Papua Tengah tidak harus menonton atau membisu lalu mengharapkan kepada pemerintah pusat dalam proses visi penyelamatan seorang pilot. Musabab, Pemerintah Daerah adalah kaki tangan Pemerintah Pusat, oleh karena itu wajib membantu pemerintah pusat.

Lanjut Theo menerangkan, persoalan penyanderan yang dimaksud bukan masalah Kabupaten Nduga, sehingga hanya dibebankan kepada Pemerintah Nduga untuk mengambil langka tanpa keterlibatan pemerintah Provinsi.

“Persoalan penyanderan di wilayah Provinsi Papua Pengunugan seharusnya diambil alih oleh Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, bukan pemerintah kabupaten. Saya tidak melihat selama ini dan tidak pernah membaca langkah-langkah Pj. Gubernur Provinsi Papua Pegunugan terkait upaya penyelamatan penyanderan warga Selandia Baru,” tegasnya.

“Disayangkan seorang Pj.Gubernur Papua Pegunugan sama sekali tidak aktif untuk mengkonsolidasikan proses pembebasan sandera,” sambungnya

Menurut Theo, stabilitas pemerintahan akan terganggu kalau situasi daerahnya tidak rasa aman, dan roda pemerintahan tidak akan berjalan dengan normal dan sangat lamban.

Selain itu, seorang Gubernur adalah pejabat negara yang berkedudukan di daerah untuk mengatasi semua persoalan dan konflik yang ada wilayahnya, dan kemudian melakukan kordinasi dengan Pemerintah Pusat.

“Itu harapan Pemerintah Pusat, bagaimana harapan pemerintah pusat akan terwujud kalau Pemerintah daerah memilih berdiam. Sedangkan Provinsi Papua Pegunungan sedang bermasalah,” pungkasnya. (fia/wen)

newsportal

Recent Posts

Terlibat Politik Praktis, 3 ASN di Merauke Diberhentikan

Tiga aparatur sipil negara (ASN) yang sebelumnya terlibat dalam politik praktis telah diberhentikan dari statusnya…

39 minutes ago

Persipura Tahan Imbang Tim Promosi

Persipura dan Garudayaksa FC bermain 1-1, gol Persipura dicetak oleh talenta muda Lazarus Sinim. Meski…

2 hours ago

Duo Asing Persipura Cepat Beradaptasi

Juru taktik Persipura, Andri Ramawi mengaku kedua pemain impornya sangat cepat beradaptasi. Pemain asal Argentina…

3 hours ago

Tawuran Pelajar di Kotaraja, Anarkis dan Resahkan Warga 

  Aksi saling serang menggunakan batu, botol kaca, hingga balok kayu memaksa para pengguna jalan…

4 hours ago

Mulai 2027, Venue PON Papua Dikelola BLUD

Dinas Olahraga dan Pemuda (Disorda) Provinsi Papua menargetkan pengelolaan venue olahraga milik Pemerintah Provinsi Papua,…

5 hours ago

Gubernur Dorong Anak Kampung Koa Bersekolah di Sekolah Rakyat

Menurutnya, keberadaan Sekolah Rakyat merupakan kesempatan yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan masa depan generasi…

6 hours ago