Prof. Ary menyebut tantangan terberat yang dihadapi Provinsi Papua saat ini ada dua, yaitu high cost production (biaya produksi tinggi) contohnya, seperti baju batik Papua yang mana hampir 100 persen diproduksi di luar Papua.
Hal ini disebabkan bahan baku pembuatan batik di Papua jauh lebih besar ketimbang diproduksi di pulau Jawa.
“Teori ekonomi selalu beranggapan bahwa konsumen akan mencari produk yang mirip, tidak perlu sama tetapi harganya rendah, hal ini juga yang membuat pengusaha batik Papua susah berkompetisi, selain itu pabrik di Papua tidak ada,” jelasnya.
Lanjutnya, tantangan kedua berkaitan dengan hak ulayat. Selama hak ulayat tidak diselesaikan maka investasi tidak akan masuk. Artinya, perusahaan-perusahaan swasta tidak dapat masuk.
“Jika tidak ada investasi yang masuk di Papua, secara otomatis tidak ada penyerapan tenaga kerja di Papua, padahal setiap tahunnya lebih dari ribuan mahasiswa sarjana di Papua. Untuk itu yang perlu diperhatikan adalah tuntaskan permasalahan hak ulayat di Papua,” pungkasnya. (ana/fia)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Sejak April 2025, rumah sakit milik Pemerintah Kota Jayapura tersebut menjalankan Program Jaminan Direktur,…
Hanya berselang 15 menit setelah insiden, Tim Babat Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Mimika yang…
Kajati Papua Jefferdian mengatakan, pertemuan tersebut merupakan agenda silaturahmi yang secara rutin dilakukan secara bergantian…
Peninjauan meliputi akses jalan menuju kawasan pusat pemerintahan Daerah Otonom Baru (DOB) Papua Selatan hingga…
enghubung Komisi Yudisial (KY) Republik Indonesia Wilayah Papua secara resmi menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan…
Informasi yang diperoleh menyebutkan sekitar 18 ABK berada di tiga kapal tersebut. Dari laporan sementara,…