Prof. Ary menyebut tantangan terberat yang dihadapi Provinsi Papua saat ini ada dua, yaitu high cost production (biaya produksi tinggi) contohnya, seperti baju batik Papua yang mana hampir 100 persen diproduksi di luar Papua.
Hal ini disebabkan bahan baku pembuatan batik di Papua jauh lebih besar ketimbang diproduksi di pulau Jawa.
“Teori ekonomi selalu beranggapan bahwa konsumen akan mencari produk yang mirip, tidak perlu sama tetapi harganya rendah, hal ini juga yang membuat pengusaha batik Papua susah berkompetisi, selain itu pabrik di Papua tidak ada,” jelasnya.
Lanjutnya, tantangan kedua berkaitan dengan hak ulayat. Selama hak ulayat tidak diselesaikan maka investasi tidak akan masuk. Artinya, perusahaan-perusahaan swasta tidak dapat masuk.
“Jika tidak ada investasi yang masuk di Papua, secara otomatis tidak ada penyerapan tenaga kerja di Papua, padahal setiap tahunnya lebih dari ribuan mahasiswa sarjana di Papua. Untuk itu yang perlu diperhatikan adalah tuntaskan permasalahan hak ulayat di Papua,” pungkasnya. (ana/fia)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Pemerintah Kota Jayapura akan memperketat pengawasan di lokasi pengungsian warga terdampak kebakaran di Kelurahan Mandala,…
Polres Merauke bersama Densus 88 Antiteror memperkuat sinergi dalam upaya mencegah penyebaran paham radikalisme dan…
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua, Marthen Medlama mengatakan data tersebut perlu divalidasi terlebih dahulu untuk…
Pemain senior sekaligus legenda Persipura Jayapura, Boaz Solossa, memberikan dukungan penuh atas langkah klub meminjamkan…
Vice President Corporate Communications PTFI Katri Krisnati mengonfirmasi penghentian sementara arus lalu lintas darat tersebut…
Selain sesak napas, sejumlah korban juga mengeluhkan pusing. Beberapa korban bahkan mengalami tekanan psikologis…