Categories: BERITA UTAMA

Waspada Politik Identitas Menjelang PSU Papua 2025

JAYAPURA – Pemungutan Suara Ulang (PSU) pemilihan gubernur dan wakil gubernur Papua Papua sudah di depan mata. Berbagai langkah strategis dan persiapan tengah dilakukan Penyelenggara Pemilu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) baik ditingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

Hanya saja menurut Pengamat Kebijakan Publik Papua yang juga merupakan Akademisi Methodeus Kosay ada hal yang patut diwaspadai yakni politik identitas yang menyinggung soal agama, ideologi, dan etnis. Pasalnya ini menjadi ”rumput kering yang mudah terbakar” jelang Pemilu. Karena itu masyarakat perlu mewaspadai untuk menghindari kekerasan dan diskusi yang tidak produktif bahkan terkesan hanya debat kusir.

Metho melihat kadang opini masyarakat dimanipulasi menjadi wadah sentimen-sentimen guna merebut simpati. Padahal cara-cara ini justru dikhawatirkan melahirkan stigma antar pemeluk agama. Publik diminta cerdas mensikapi euforia politik para elit yang terkesan kebabalasan dan menabrak rambu.

“Kami mengajak masyarakat Papua yang bermukim di delapan kabupaten/kota di Provinsi Papua dapat menilai dengan hati nuraninya dalam menggunakan hak pilihnya nanti,” kata Methodius dalam keterangan tertulisnya, Kamis (3/7). Disarankan sebelum memilih, masyarakat perlu mengenali latar belakang dan rekam jejak dari pasangan calon.

Ini bisa yang berkaitan dengan organisasi, kepemimpinan, dan kinerja masa lalu. Kemudian mempelajari visi, misi, dan program kerja yang ditawarkan, serta relevansinya dengan permasalahan yang dihadapi daerah. Hal ini ia sampaikan karena biasanya dalam orasi politik para pasangan calon maupun tim suksesnya, kebanyakan hannya saling sindir dengan narasi negatif untuk menjatuhkan paslon yang lain.

Kampanye politik identitas diakui belakangan ini marak digunakan. Identitas kelompok menjadi alat utama untuk meraih dukungan, membangun loyalitas, bahkan membangun kekuatan politik.

“Salah satu isu yang berkembang dalam politik identitas di Papua adalah agama dan suku, yang digunakan untuk menyerang salah satu kandidat. Praktik semacam itu tidak boleh dilakukan untuk menyerang salah satu kandidat sehingga terkesan menimbulkan kebencian,” jelasnya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

PT MAS Tidak Ada Kaitannya dengan Pengelolaan Dana Divestasi Saham PTFI

Bupati Mimika Johannes Rettob pun menepis isu miring tentang pengelolaan dana divestasi saham PTFI tersebut…

5 minutes ago

Sampai Hari Kelima, Pencarian 6 ABK  KM Bintang Laut Masih Nihil

Pihaknya, lanjut dia, telah meminta bantuan kepada Keamanan Laut (Kamla) dan Radio Pantai untuk kapal-kapal …

1 hour ago

Thomas Djiwandono, Keponakan Prabowo yang Terpilih Jadi Deputi Gubernur BI

"Sekarang perkenankan kami menanyakan pada sidang dewan yang terhormat laporan Komisi XI atas hasil uji…

2 hours ago

Ahok Minta Jaksa Periksa Erick Thohir hingga Jokowi

“Ini saya ingin menanyakan penegasan ya, masih di poin 10 huruf a. Dalam keterangan saudara…

3 hours ago

Kinerja Pemerintah Tidak Harus Selalu Dipublikasikan di Media

Bupati menjelaskan, pola tersebut juga akan diterapkan pada tahun-tahun berikutnya. Seluruh kerja pemerintahan akan dievaluasi…

4 hours ago

DPRP Desak Kemenhub Revisi Regulasi Penerbangan di Papua

Wahyu Wibowo dari PT AMA hadir mewakili lima lembaga penerbangan misi. Ia mengungkapkan bahwa Permenhan…

4 hours ago