Categories: BERITA UTAMA

Kawer: Perang di Papua, Tapi Ingin Jadi Pahlawan Disana

JAYAPURA-Praktisi Hukum.dan Pemerhati Perdamaian Gustaf R Kawer mengatakan dampak Perang dapat meningkatkan kekacauan, kemiskinan,dan sakit penyakit , “wabah” perang ini ada dimana-mana termasuk paling banyak di negara dunia ketiga seperti Indonesia yang juga menjajar Papua. Dikatakan sebagai salah satu negara dunia ketika Indonesia  gemar berperang melawan rakyatnya sendiri dan paling banyak dan terlama yang ada di Papua. “Perang itu telah ada sejak tahun 1961 (Sejak Trikora dikumandangkan) sampai saat ini (60 Tahun lebih), bukti dari perang masih terjadi di Papua hingga terkini adalah kekacauan masih terjadi di Puncak Jaya, Intan Jaya, Nduga, dan hampir merata di beberapa daerah di pegunungan,termasuk  yang terjadi di Maybrat, Papua Barat,” katanya kepada Cenderawasih Pos, di Kotaraja, Rabu, (02/3). Dikatakan Gustaf yang juga berprofesi sebagai  Pengacara Papua itu bahwa kemiskininan di Papua juga mencapai angka tertinggi di republik ini, begitu juga penduduknya tingkat kesehatannya sangat rendah, yang paling memprihatinkan situasi ini dialami oleh pengungsi-pengungsi dibeberapa daerah konflik yang angkanya mencapai kurang lebih 60.000 orang. “Perhatian kita kini di Perang antara Rusia VS Ukraina, Indonesia menurut wacana di beberapa media ingin tampil sebagai negara yang berperan mendukung perdamaian dunia dengan berinisiatif menjadi media “mediator” bagi perang ini, Pemerintah Indonesia ingin menunjukan kepada negara lain sebagai pihak yang mempunyai andil untuk menciptakan perdamaian dunia,” katanya. Lanjutnya saat ramai perhatian dunia untuk perang Rusia VS Ukraina, ratusan prajurit TNI dari beberapa daerah di Indonesia dikirim ke perbatasan Papua dan Papua New Guinea dan beberapa daerah di pegunungan, ditambah pasukan organik dan non organik maka telah ada puluhan ribu pasukan yang ada di Papua. “Jika negara ini ingin tampil menciptakan perdamaian dunia, seharusnya yg ditunjukan didaerah ini bukan mengirim puluhan ribu pasukan, tetapi cukup mengirim puluhan atau ratusan dokter dan tenaga pendidikan di daerah konflik untuk menjawab problem kesehatan dan pendidikan yang tentunya berdampak bagi peningkatan pembangunan dan kesejahteraan di Papua,” katanya. Bahkan ia menabahkan  negara ini gemar dengan sinetron yang mematikan akal sehat ketimbang objektif sengan persoalan.” Perang di sini tapi ingin jadi pahlawan di sana,” katanya, (fia/oel).
newsportal

Share
Published by
newsportal
Tags: PAPUA

Recent Posts

Polres Keerom Kembali Musnahkan Ganja

Kasat Narkoba Polres Keerom AKP Rony Romy Samori menjelaskan, barang bukti yang dimusnahkan terdiri dari…

14 minutes ago

Pemprov Papua Dorong 50 Persen Bahan Baku dari Lokal

Badan Gizi Nasional (BGN) resmi meluncurkan 13 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mendukung pelaksanaan…

1 hour ago

Ditinjau Tim dari Menko Polhukam, 333 Rumah Terdampak Konflik Sosial Bakal Terealisasi

Tim yang diturunkan ke Wamena saat ini dari Menko Polhukam, BNPB, Danrem 172/ PWY, PLN…

2 hours ago

BPS Jayawijaya Memastikan Inflasi September 2026 Mencapai 3.28 Persen

Kepala BPS Jayawijaya Arther Purmiasa menyatakan Pada Bulan September 2026, terjadi inflasi sebesar 3,28 persen…

3 hours ago

Tujuh Dokter UGD RSUD Boven Digoel Mogok, Pemkab Tarik Empat Dokter Puskesmas

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boven Digoel Adolof Andatu, Amd, Kep, SKM. ketika dikonfirmasi media ini…

4 hours ago

KMN Rizki Jaya Utama 01 Bocor di Laut Arafura, Satu ABK Masih Dalam Pencarian

Akibat kecelakaan tersebut, satu dari sembilan orang Anak Buah Kapal (ABK) yang berada di atas…

5 hours ago