Categories: BERITA UTAMA

Uskup KAMe Kecam dan Kutuk Keras!

Uskup KAMe Kecam dan Kutuk Keras! 

MERAUKE – Uskup Keuskupan Agung Merauke (KAMe) Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC langsung mengeluarkan pernyataan keras terhadap kekerasan 3 warga sipil di Bade, Distrik Edera, Kabupaten Mappi  yang menyebabkan 1 korban jiwa meninggal dunia.

  “Saya sebagai Uskup Agung Merauke mengecam dan mengutuk keras oknum-oknum tentara yang melakukan penganiayaan. Mereka harus dihukum  dan hukuman bagi mereka sebagai tentara tapi juga diadili sesuai dengan Undang-undang.

Jadi bukan hanya dipecat tapi juga diadili  sesuai dengan UU karena membuat orang meninggal. Mereka itu sama dengan Fredi Sambo, oknum Polisi yang saat ini ramai dibicarakan,’’ tandas  Uskup Mandagi kepada wartawan di rumah Keuskupan Agung Merauke, Kamis (1/9) kemarin.

  Uskup menjelaskan, bahwa penganiayaan yang diduga dilakukan oknum anggota TNI  terhadap 3 orang Papua tersebut memang melakukan kesalahan namun menurutnya penyelesaian ini harus melalui penengakan hukum dan dilaksanakan bersama dengan Polisi. Bukan melalui penganiayaan.

    “Penganiayaan itu bertentangan dengan kemanusiaan dan dengan keagamaan. Tidak ada agama yang mengizinkan penganiayaan terhadap manusia. Orang Papua bukanlah binatang dengan seenaknya bila melakukan kesalahan dianiaya dengan kasar dan sadis,’’ tandasnya.

  Menurutnya, penganiayaan oleh tentara sudah terjadi berulang kali di Papua. ‘’Sekali lagi saya minta hal ini harus dihentikan. Dihentikan. Sebagai penghormatan kita kepada tentara, kita hormati kepada mereka, tapi kita  tidak menghormati tentara yang brutal. Tentara  yang sadis. Kalau dia berbuat begitu, maka dia itu bukan manusia tapi setan. Menganiaya sesama seperti seekor binatang. Karena itu, saya sebagai Uskup Agung Merauke mengecam dan mengutuk dengan keras oknum-oknum tentara yang melakukan penganiayaan,’’ tandasnya.

  Uskup mengungkapkan bahwa pemimpin atau komandan yang ada di wilayah Bade harus dihukum juga. Termasuk yang ada di kabupaten .  ‘’Saya rasa mereka harus diganti karena mereka tidak mampu memimpin anak buahnya  atau mengingatkan anak buahnya untuk jangan menganiaya rakyat,’’ katanya ceplas ceplos.

  Uskup juga menjelaskan bahwa perlu dipikirkan supaya tentara-tentara yang bertugas di Papua  entah yang datang dari luar maupun orang dalam perlu terus menerus dibina khususnya di bidang penghormatan hak-hak asasi manusia.

    Uskup Mandagi berharap, kasus penganiayaan yang terjadi tersebut merupakan yang terakhir.  ‘’Semoga penganiayaan ini khususnya menjadi kejadian yang terakhir. Jangan pernah terjadi lagi,’’ tambahnya. (ulo/wen)

newsportal

Share
Published by
newsportal
Tags: KRIMINAL

Recent Posts

Terbukti Lakukan Pungutan, Kepsek Terancam Dicopot

Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, menegaskan akan memberikan sanksi tegas kepada pihak sekolah yang…

21 hours ago

Wali Kota Salurkan Bantuan untuk 44 UMKM dan OAP Kurang Mampu

   Wali Kota juga meminta Dinas Sosial Kota Jayapura untuk terus melakukan pemantauan terhadap seluruh…

22 hours ago

Sempat Tegang, Eksekusi Lahan Bukit Jokowi Batal

   Ia menegaskan bahwa eksekusi tidak dapat dilaksanakan apabila lokasi dan luas tanah yang dimaksud…

1 day ago

Pengembangan Pariwisata Harus Angkat Kearifan Lokal

   Menurut Abisai, kekayaan budaya, adat istiadat, serta tradisi masyarakat adat yang masih terjaga hingga…

1 day ago

Komisi IV Sayangkan Aset Terbuang Percuma

Menurut Albert, peristiwa tersebut merupakan bentuk kelalaian yang mengakibatkan kerugian bagi daerah. "Aset ini dibeli…

1 day ago

Akui Peredaran Narkoba Masih Tinggi

Menurut Aflian, keberhasilan pemberantasan narkotika tidak dapat dilakukan oleh aparat kepolisian semata. Dukungan dan partisipasi…

1 day ago