Categories: KESEHATAN

Menteri Kesehatan: Lonjakan Kasus Diabetes di Indonesia Kian Mengkhawatirkan

SURABAYA – Pemerintah menaruh perhatian serius terhadap meningkatnya kasus diabetes melitus di Indonesia yang dinilai telah menjadi ancaman kesehatan masyarakat sekaligus beban besar sistem pelayanan kesehatan nasional. Data survei kesehatan terbaru menunjukkan prevalensi diabetes terus mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir, seiring perubahan pola hidup masyarakat.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, konsumsi gula berlebihan yang tidak diimbangi aktivitas fisik memadai menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya kasus diabetes. Kondisi tersebut kerap luput disadari karena pada tahap awal penderita masih merasa sehat.

“Gula ini mother of all diseases. Didiamkan, orang merasa tidak apa-apa. Tapi ketika muncul, dampaknya bisa ke ginjal, mata, jantung, stroke, dan berbagai penyakit serius lainnya,” ujar Budi. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diabetes pada penduduk usia 15 tahun ke atas tercatat mencapai sekitar 11,7 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan Riskesdas 2018 yang berada di kisaran 10,9 persen.

Secara absolut, jumlah penyandang diabetes di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 20 juta orang dewasa, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan beban diabetes terbesar di dunia.

Temuan Kementerian Kesehatan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) juga menunjukkan bahwa provinsi-provinsi dengan jumlah penduduk besar, terutama di Pulau Jawa seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, menyumbang proporsi kasus yang signifikan.

Tingginya angka ini tidak hanya dipengaruhi faktor populasi, tetapi juga pola konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, meningkatnya obesitas, serta gaya hidup sedentari akibat urbanisasi. Secara klinis, mayoritas kasus yang ditemukan merupakan diabetes melitus tipe 2, yang erat kaitannya dengan resistensi insulin dan faktor gaya hidup.

Penyakit ini dikenal sebagai silent disease karena gejalanya sering tidak terasa, namun dapat menimbulkan komplikasi berat seperti penyakit kardiovaskular, gagal ginjal kronis, kebutaan akibat retinopati diabetik, hingga amputasi.

Untuk menekan dampak lanjutan tersebut, pemerintah mendorong penguatan deteksi dini dan pengobatan di fasilitas layanan kesehatan primer. Salah satu langkah yang dimasifkan adalah pemberian obat metformin bagi penderita diabetes tipe 2, sesuai dengan pedoman nasional pengelolaan diabetes. Metformin berfungsi menekan produksi glukosa berlebih di hati dan meningkatkan sensitivitas insulin, terutama bila dikombinasikan dengan perubahan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik.

Page: 1 2

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Kantor DPR Papua Digeledah Kejaksaan

Aktivitas kantor di Sekretariat DPR Papua, Jumat (25/9) mendadak tegang. Ini lantaran sejumlah penyidik kejaksaan…

2 hours ago

Dokumen Aspirasi Papua Utara Sampai ke DPRP

Kedatangan para tokoh adat dipimpin Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Waropen di Tanah Tabi, Karlos…

6 hours ago

Kamar Bak Apartemen di Lapas Cibinong Bikin Heboh, Ini Temuan Ombudsman

Alih-alih masuk ke blok hunian utama, tim Ombudsman justru menemukan deretan bangunan yang menarik perhatian.…

12 hours ago

Cegah Karhutla Berulang, Prabowo Bentuk Badan Gambut dan Mangrove

Presiden Prabowo Subianto memutuskan membentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) untuk memperkuat pencegahan…

13 hours ago

Kualitas MBG Bisa Diratting Bintang 1-5 di Aplikasi

Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan keterlibatan sekolah menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengawasan…

14 hours ago

Banyak Kebun di Kawasan Penyangga Cycloop

Banyak sekali kebun yang dibuat oleh warga. Lokasi yang harusnya ditumbuhi pepohonan besar tiba-tiba berubah…

15 hours ago