Categories: KESEHATAN

Penyakit Jantung Tempati Posisi Teratas Penyebab Kematian di Indonesia

PENYAKIT jantung hingga kini masih menempati posisi teratas sebagai penyebab kematian di Indonesia. Tren ini terus meningkat seiring perubahan pola hidup masyarakat serta bertambahnya usia harapan hidup penduduk.

Di tingkat nasional, pemerataan layanan bedah jantung masih menjadi tantangan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga akhir 2022, baru sembilan provinsi yang memiliki kemampuan melakukan operasi bypass jantung, menyebabkan antrean pasien dapat mencapai 6 hingga 18 bulan.

Pemerintah sendiri menargetkan seluruh provinsi di Indonesia mampu melakukan operasi bypass jantung pada 2027 sebagai bagian dari strategi pemerataan layanan kesehatan jantung.

Direktur Regional Mitra Keluarga Group, dr. Arina Yuli Roswitati, menekankan pentingnya penguatan layanan jantung yang berkelanjutan. Menurutnya, penyakit jantung saat ini masih menjadi tantangan kesehatan yang semakin kompleks, sehingga membutuhkan kesiapan layanan yang menyeluruh dan berkesinambungan.

“Penguatan layanan jantung tidak hanya berfokus pada tindakan operatif, tetapi juga pada deteksi dini, kesinambungan perawatan, serta edukasi pasien agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. Melalui pengembangan layanan jantung, kami berupaya menjawab kebutuhan tersebut, sambil terus mendukung peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan jantung,” kata dr. Arina di Jakarta, Rabu (4/2).

Dalam konteks tersebut, RS Mitra Keluarga Kelapa Gading turut menerapkan teknik bedah jantung minimal invasif yang dinilai sejalan dengan target nasional. Selain meningkatkan kapasitas layanan di tingkat fasilitas kesehatan, langkah ini juga berkontribusi dalam memperluas akses masyarakat terhadap layanan jantung modern dan berkualitas.

Pada kesempatan yang sama, RS secara resmi memperkenalkan MICRO (Minimal Invasive Cardiac Surgery with Rapid Recovery), sebuah program unggulan berupa protokol bedah jantung terintegrasi. Program ini menggabungkan teknik sayatan minimal, pemanfaatan teknologi modern, visualisasi presisi tinggi, serta pendekatan pemulihan cepat yang terstandarisasi.

“Program ini dirancang untuk meminimalkan trauma operasi, memperpendek lama rawat inap, mengurangi nyeri, mempercepat mobilisasi pasien, menurunkan risiko komplikasi, serta meningkatkan kualitas hidup pascaoperasi. Melalui MICRO, pasien bedah bypass jantung tidak lagi harus menghadapi ketakutan akan operasi besar dan masa pemulihan yang panjang seperti pada metode konvensional,” ungkap Direktur Mitra Keluarga Kelapa Gading, dr. Ronald Reagan.

Page: 1 2

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

PLBN Papua Didorong Untuk Jadi Pusat Ekonomi Terpadu

  “Keberadaan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Papua tidak boleh hanya dipandang sebagai simbol…

20 hours ago

Cegah Kerusakan Lingkungan, Penertiban Izin Harus Selektif

  Wali Kota Abisai Rollo meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) yang berwenang agar lebih…

21 hours ago

DPR Papua Sepakati Ranwal RPJMD Papua 2025–2029

Herlin Beatrix Monim menjelaskan, pembahasan Ranwal RPJMD dilakukan berdasarkan ketentuan Pasal 261 Undang-undang Nomor 23…

22 hours ago

Sidak ke Pasar, Satgas Pangan Pastikan Stok dan Harga Masih Stabil

   Pemantauan diawali di Pasar Sentral Hamadi. Dari hasil pengecekan di sejumlah kios, harga beras…

23 hours ago

Konflik Aparat Keamanan Versus KKB Paksa Warga Mengungsi

Imbauan itu disampaikan berkaitan dengan rencana pelaksanaan operasi keamanan di wilayah Kembru. Menurut warga tersebut,…

24 hours ago

Lulus dari Amerika, Dirikan Cafe dan Ingin Bangun Daerah

Cecilia Mehue menjadi salah satu contoh penerima manfaat program tersebut. Ia berhasil menempuh pendidikan sarjana…

1 day ago