Categories: NASIONAL

Puluhan Organisasi Soroti Serangan Brutal Israel ke Palestina

Serangan itu bahkan menyebabkan kehancuran sedemikian rupa sehingga para kerabat mereka yang masih hidup kini tinggal memiliki sedikit puing-puing untuk mengingat orang-orang yang mereka cintai telah dibunuh.
Pemboman tanpa henti di Gaza juga telah membawa penderitaan yang tak terbayangkan bagi orang-orang yang sudah menghadapi krisis kemanusiaan yang mengerikan. Apalagi blokade ilegal Israel yang telah berlangsung selama 16 tahun telah menghantam ekonomi di Gaza dan sistem perawatan kesehatan di sana sudah hancur. Rumah sakit pun lumpuh, tidak mampu mengatasi banyaknya orang yang terluka dan sangat kekurangan obat-obatan dan peralatan yang menyelamatkan jiwa.
Serangan Israel menyebabkan makin banyak warga sipil di Gaza kehilangan tempat tinggal. Bangunan-bangunan permukiman di Kota Gaza dan sekitarnya, termasuk di kamp pengungsi Nuseirat dan Jabalia, hancur dihantam rudal-rudal militer Israel. Menurut Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB, jumlah pengungsi internal di Gaza telah mencapai 1 juta orang pada 19 Oktober, termasuk lebih dari 527.500 orang yang tinggal di tempat penampungan darurat UNRWA (Badan PBB untuk Pemulihan dan Pekerjaan untuk Pengungsi Palestina) di Gaza tengah dan selatan.
Hak atas lingkungan hidup yang aman, bersih, sehat, dan berkelanjutan tidak terpenuhi oleh masyarakat Palestina. Beberapa contoh fenomena adalah nihilnya manajemen pengelolaan sampah yang baik karena eskalasi konflik yang terus berdatangan sehingga akumulasi sampah dan limbah tersebar di ruang-ruang terbuka dan berdampak serius pada konsekuensi kesehatan terhadap kelompok rentan seperti anak, perempuan, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, disabilitas, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu.
Air juga menjadi aspek yang dikontrol penuh oleh Israel dimana 97% air yang dipompa dari pesisir Gaza tidak memenuhi standar kesehatan WHO. Hal ini berdampak pada polusi air di Gaza serta ketersediaan air yang minim, yakni hanya 21,3 liter per hari, dibandingkan dengan 100 liter yang ditetapkan oleh WHO sebagai standar minimum.
“Sayangnya, beragam tokoh terkemuka internasional terang-terangan memberikan pernyataan yang berpotensi untuk menambah eskalasi konflik konflik dalam jangka panjang. Salah satunya adalah pernyataan Presiden AS Joe Biden pada 10 Oktober 2023,” tulis rilis tersebut.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Peluang Kerja Banyak, Namun Pencaker Masih Pilih-Pilih PekerjaanPeluang Kerja Banyak, Namun Pencaker Masih Pilih-Pilih Pekerjaan

Peluang Kerja Banyak, Namun Pencaker Masih Pilih-Pilih Pekerjaan

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Jayapura menilai peluang kerja di Kabupaten Jayapura sebenarnya cukup…

7 hours ago

Sat Binmas Polres Jayapura Dukung Ketahanan Pangan di Kampung Doyo Lama

Kapolres Jayapura AKBP Dionisius V.D.P Helan melalui Kasat Binmas AKP Yonias Purwanto mengatakan, kegiatan pembersihan…

8 hours ago

Pemkot Pastikan Kelompok Rentan Mendapat Perhatian

Kegiatan tersebut dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Kota Jayapura, Muchlis Karim, yang hadir…

8 hours ago

Keterbatasan Anggaran, GOR Toware Minim Perawatan

Pemerintah Kabupaten Jayapura melalui Dinas Pemuda dan Olahraga mengakui pengelolaan dan perawatan GOR Toware di…

9 hours ago

Pemkot Diminta Perhatikan Jangkauan Program Perlindungan Sosial

Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Jayapura, terutama dinas teknis terkait, agar…

9 hours ago

Piter Gusbager Kembali Nakhodai DPD Golkar Kabupaten Keerom

Bupati Keerom, Piter Gusbager kembali dilantik sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar…

10 hours ago