Categories: NASIONAL

71 Tokoh Sampaikan Sikap

Desak Operasi Penundaan Pemilu Dihentikan

JAKARTA-Penolakan terhadap upaya penundaan Pemilu 2024 terus bergema. Sebanyak 71 tokoh yang terdiri atas akademisi, aktivis, hingga budayawan berkumpul menyampaikan sikap tegas tersebut.

Para tokoh itu, antara lain, Tamrin Amal Tamagola, Zainal Arifin Mochtar, Feri Amsari, dan Bivitri Susanti. Kemudian, ada juga Hadar Nafis Gumay, Busyro Muqoddas, hingga Usman Hamid.

Hadar selaku pendiri Netgrit mengatakan, wacana penundaan pemilu harus terus dikawal. Sebab, meski sejumlah tokoh menyatakan komitmennya untuk melanjutkan Pemilu 2024, faktanya upaya konkret belum terlihat.

Hal itu, lanjut dia, bisa diukur dari belum adanya progres persiapan yang jelas dari tahapan Pemilu 2024. Bahkan, pembahasan peraturan KPU tentang tahapan belum mendapat jadwal. Nominal anggaran pemilu juga belum jelas, kendati tahapan akan dimulai Juni.

’’Kalau mereka gak cukup serius menetapkan dana (pemilu) dan mengalokasikan waktu konsultasi, jadi pertanyaan besar,’’ ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta kemarin (16/3).

Hadar berharap komitmen sejumlah elite benar-benar dibuktikan dengan segera membahas persiapan pemilu. Sebab, tanpa komitmen yang jelas, tahapan pemilu akan terimbas. ’’Kalau gak serius, bisa berantakan dan penundaan bisa benar-benar terjadi,’’ imbuhnya.

Akademisi Universitas Gadjah Mada Zaenal Arifin Mochtar menambahkan, operasi penundaan pemilu dengan melumpuhkan tahapan harus mendapatkan atensi. Sebab, skenario itu bisa menjadi nyata jika tahapan pemilu benar-benar terhambat.

’’Seketika tercipta seakan-akan alasan objektif, rasional, dan konstitusional untuk mengubah pasal 22 E (UUD 1945),’’ ujarnya. Zaenal meminta publik juga mengawal proses yang berlangsung di tataran teknis. Terutama pembahasan di dewan.

Dia mengingatkan elite politik di Indonesia untuk menghentikan segala upaya untuk menunda pemilu. Zaenal mengingatkan, kasus-kasus perpanjangan jabatan di beberapa negara demokrasi kerap berakhir buruk. Yang terbaru Republik Guinea yang berujung kudeta. ’’Indonesia bisa masuk ke dalam skenario yang sangat tidak diinginkan,’’ ucapnya mengingatkan.

Busyro yang juga ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengkritik keras para pengusul penundaan pemilu. Dia menyebutnya sebagai keledai politik yang tak punya malu. Sebab, menggunakan klaim dukungan publik untuk memenuhi hasrat kekuasaannya.

Dia mengingatkan para elite yang menghendaki itu untuk tidak nekat dan memaksakan kehendaknya. ’’Masyarakat ada batas kesabarannya,’’ tuturnya. (far/c17/bay/JPG)

newsportal

Share
Published by
newsportal
Tags: NASIONAL

Recent Posts

Komnas HAM Diminta Selidiki Kasus Tiga Warga Sipil

Menurut Anthon, langkah itu penting agar tidak muncul korban-korban sipil lainnya akibat tuduhan sepihak yang…

18 hours ago

Pemkot Siap Tegakkan Perda yang Belum Optimal

Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru, menegaskan Pemerintah Kota Jayapura akan mengoptimalkan pelaksanaan sejumlah peraturan…

1 day ago

Eksploitasi Seksual Jadi Temuan Ditsiber

Kasubdit I Ditresiber Polda Papua, Kompol I Wayan Laba, mengatakan kejahatan siber merupakan segala bentuk…

1 day ago

Jalur  Utara Papua Jadi Prioritas Konektivitas Daerah

Menurut dia, jika konektivitas darat dan laut berjalan bersamaan maka masyarakat akan memperoleh manfaat yang…

1 day ago

Transparansi dan Pelayanan Publik di BPN Dinilai Buruk

Wakil Ketua I DPR Kota Jayapura, Max Karubaba, menegaskan bahwa pelayanan pertanahan merupakan hak mendasar…

1 day ago

Tiga Kali Setubuhi Anak Dibawa Umur, Pria 44 Tahun Diringkus

Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Merauke mengamankan seorang pria berumur 44 tahun berinisial FB atas…

1 day ago