Categories: NASIONAL

Jamin Tak Intervensi Komisioner Baru

KPU-Bawaslu Butuh Kepastian Anggaran Pemilu

JAKARTA-Suksesi kepemimpinan di tubuh penyelenggara pemilu berjalan sesuai jadwal. Rencananya, Presiden Joko Widodo melantik komisioner Komisi Pemilu Umum (KPU) RI dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI di Istana Negara, Jakarta, besok (12/4).

Kepastian itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD. ”Saya sampaikan bahwa pada hari Selasa tanggal 12 April 2022, presiden akan melantik anggota KPU dan Bawaslu yang telah dipilih,” ujarnya.

Mahfud menambahkan, pelantikan tersebut menjadi bukti bahwa pemerintah fokus menyiapkan Pemilu 2024. Sekaligus menampik spekulasi terkait penundaan pemilu. Mantan ketua MK itu juga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mengintervensi pelaksanaan pemilu serentak tersebut. ”Kepada KPU dan Bawaslu, diharapkan terus bekerja menyiapkan pemilu sesuai dengan ketentuan konstitusi dan Undang-Undang Pemilu,” tambah dia.

Direktur Kata Rakyat Alwan Ola Riantoby menyatakan, dilantiknya komisioner baru akan menjadi babak baru. Meski demikian, dia menilai pelantikan tidak bisa dijadikan indikator wacana penundaan pemilu telah berakhir. Apalagi, manuver politik masih dilakukan.

Alwan menuturkan, bukti keseriusan pemerintah menolak penundaan pemilu harus lebih konkret. Misalnya dengan segera memberikan kepastian anggaran. ”PKPU harus segera diterbitkan. Kepastian anggaran harus dipastikan,” ujarnya dalam diskusi kemarin.

Jika anggaran disepakati dan tahapan dimulai, baru itu merupakan harapan. Karena itu, Alwan mendorong pemerintah bersama DPR segera melakukan rapat dengar pendapat membahas dua hal krusial tersebut.

Terkait komisioner baru, Alwan mengakui bahwa komisioner yang terpilih cukup berpengalaman. Namun, dia berharap mereka dapat menjaga independensi sebagai penyelenggara. Karena kompleksitas pemilu, Alwan juga mendesak KPU-Bawaslu bisa bekerja kolaboratif. ”Tidak ada lagi seperti Tom and Jerry,” tuturnya.

Analis politik Exposit Strategic Arif Susanto menjelaskan, ada dua tantangan besar yang harus diselesaikan komisioner baru. Yang pertama adalah independensi. Dia mengingatkan, tarik-menarik kepentingan di 2024 akan kencang.

Karena itu, penyelenggara harus memastikan diri tetap berdiri di jalur independen. Sebaliknya, jika penyelenggara partisan, konsekuensinya besar. Bukan hanya legitimasi pada penyelenggara hancur, hasil pemilu juga tidak dipercaya. ”Jangan main-main dengan independensi penyelenggara,” tegasnya.

Arif juga menekankan agar KPU dan Bawaslu bisa mengupayakan pemilu yang lebih berkualitas. Sebab, sudah lima kali pemilu di masa reformasi digelar, tapi tidak berkontribusi pada perbaikan demokrasi. ”Orang yang dihasilkan pemilu luber dan jurdil justru banyak berakhir di penjara KPK,” pungkasnya. (far/syn/c9/bay/JPG)

newsportal

Share
Published by
newsportal
Tags: KPU

Recent Posts

490 Daerah Tak Punya Uang untuk Bayar Gaji ASN

Karena itu, Kemenkeu saat ini tengah menghitung kebutuhan tambahan anggaran yang diperlukan untuk menambal kekurangan…

6 hours ago

Kodam Sebut Kevin Tewas Dalam Laka Tunggal

   Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Tri Purwanto, mengatakan penyelidikan dilakukan bersama Polres Jayapura…

7 hours ago

Kuasai Abepura, Agenda Demo Harus Terkendali

Kesiapan tersebut disampaikan langsung oleh Kapolsek Abepura, Kompol Paulus Hilapok. Ia mengonfirmasi bahwa pihak kepolisian…

8 hours ago

Hotel Boleh Sepi Sekarang, Tapi Jurusan Perhotelan Paling Banyak Diincar Siswa

   Ia menjelaskan, pembelajaran perhotelan di SNK Pariwisata Papua tidak berhenti di ruang kelas. Siswa…

9 hours ago

Yulianto: Banyak Masalah Tanah Belum Tuntas

​Ia mencontohkan salah satu bentuk ketidakberesan pelayanan pertanahan yang tengah ia tangani, seperti permohonan pengembalian…

10 hours ago

Hanya Bermodalkan Rp 500 Ribu, Makanan Basi Terdeteksi Lima Detik.

Dengan modal sekitar Rp 500 ribu, dua siswa kelas sembilan tersebut merancang alat yang dapat…

11 hours ago