Categories: NASIONAL

Pemerintah Batasi Anak Bermedsos, Dorong Ekosistem Digital Aman dan Edukatif

SURABAYA – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan dukungan terhadap kebijakan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun. Aturan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital (Permenkomdigi) No. 9 Tahun 2026, yang dinilai sebagai langkah berani pemerintah dalam memperkuat perlindungan anak di ranah digital.

Namun, KPAI juga menekankan pentingnya strategi lanjutan agar kebijakan ini tidak mengabaikan hak anak atas informasi dan partisipasi. Komisioner KPAI, Sylvana Apituley, menyebut bahwa kebijakan ini lahir dari keprihatinan terhadap meningkatnya kekerasan berbasis online terhadap anak Indonesia.

“Kami menyambut positif Permenkomdigi No. 9 Tahun 2026 yang bertujuan menunda akses akun anak berusia di bawah 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi,” ujarnya, Minggu (8/3).

Menurut Sylvana, aturan ini merupakan respons terhadap kegagalan mekanisme pengawasan mandiri (self-regulation) oleh platform digital selama ini. Ia menilai Permenkomdigi sebagai bentuk perlindungan sistemik terhadap eksploitasi data anak dan paparan algoritma predator.

“Secara tidak langsung, Permenkomdigi melindungi data pribadi anak dan menegakkan kedaulatan digital anak rentan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Sylvana menekankan bahwa pembatasan akses tidak boleh berarti pemutusan total terhadap hak anak untuk berkembang di dunia digital. Ia mendorong pemerintah menyediakan ruang digital alternatif yang aman dan edukatif, serta mendorong industri teknologi menciptakan antarmuka khusus anak yang bebas dari iklan bertarget dan algoritma adiktif.

“Pemerintah perlu mendorong prinsip safety by design agar anak tetap bisa belajar dan berpartisipasi di ruang digital tanpa risiko eksploitasi,” tambahnya.

KPAI juga mengingatkan pentingnya pelibatan anak dalam pelaksanaan kebijakan ini. Berdasarkan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, anak memiliki hak atas informasi dan partisipasi.

Oleh karena itu, pemerintah perlu membuka ruang bagi remaja untuk menyampaikan masukan terkait implementasi Permenkomdigi. Selain itu, Sylvana mendorong dilakukannya literasi digital nasional yang masif dan kreatif, terutama di daerah dengan tingkat kerentanan tinggi. Hal ini penting untuk mengurangi keresahan masyarakat dan mencegah dampak negatif dari kebijakan baru.

Page: 1 2

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Kejari Mimika Eksekusi Rp5,4 Miliar Uang Pengganti Korupsi Proyek Aerosport 

Kejaksaan Negeri Mimika mengeksekusi barang bukti uang tunai sebesar Rp5,43 miliar dari terpidana kasus korupsi…

6 hours ago

Operator Bulldozer Tewas dalam Kecelakaan Kerja di Jagebob

Kecelakaan kerja terjadi di areal perkebunan PT Murni Nusantara Mandiri (MNM), tepatnya di Blok 006–012…

7 hours ago

Seorang Pria Ditemukan Tak Bernyawa di Kompleks Barak Penerangan 

Warga kompleks barak penerangan, Jalan Bhayangkara, Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, dikejutkan dengan penemuan jenazah seorang…

8 hours ago

Jalan Yongsu Sapari Jadi Salah Satu Proyek Infrastruktur Besar 2026

Pemerintah Kabupaten Jayapura terus mendorong pembangunan infrastruktur sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah. Salah satunya…

9 hours ago

Bupati Keerom Tegaskan Tidak Boleh Ada Sekolah Kekurangan Guru

Bupati Keerom, Piter Gusbager dengan tegas memastikan tidak ada lagi sekolah di Kabupaten Keerom yang…

11 hours ago

Produksi Petani Lokal Berkurang Turut Pengaruhi Inflasi Daerah

Bupati Jayawijaya Atenius Murib, SH, MH menyatakan koordinasi dan sinergi antara lembaga ini, diperlukan untuk…

12 hours ago