“Di alam, penyerbukan bisa terjadi secara alami. Sementara di Kebun Raya harus dibantu manusia melalui hand pollination karena bunga jantan dan betinanya tidak masak secara bersamaan,” jelas Dian. Ia menambahkan, durasi mekarnya bunga bangkai raksasa sangat singkat. Karena itu, kesempatan menyaksikannya secara langsung menjadi momen yang sangat berharga.
Pengelola dan peneliti juga mengedukasi masyarakat agar tidak keliru membedakan bunga bangkai raksasa dengan tanaman lain yang kerap disamakan. “Masyarakat perlu membedakan dengan suweg (Amorphophallus paeoniifolius) atau Rafflesia. Meski disebut bunga bangkai raksasa, bunga jantan dan betinanya sebenarnya kecil-kecil dan mengelompok di bagian bawah spadiks yang menjulang tinggi,” terang Dian.
Mekarnya bunga bangkai raksasa kali ini tak hanya spektakuler dari sisi ukuran, tetapi juga bernilai historis. Sebab, koleksi tersebut terakhir kali mekar setelah ‘tertidur’ selama 12 tahun penuh. (she/fir)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Page: 1 2
Suara Perempuan Papua Bersatu menggelar mimbar bebas di Lingkaran Abepura, Kamis (30/4). Sejumlah aspirasi dari…
Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, menggandeng sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh adat untuk bersama-sama mengimbau…
Ketua KSPI Papua, Benyamin Eduard Inuri, mengatakan bahwa aksi tersebut merupakan bagian dari gerakan serentak…
Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan bantuan pemerintah. Sosialisasi…
Nah sebagai tim tanpa beban ini justru kadang menjadi ancaman bagi kubu tuan rumah karena…
Cuaca ekstrem yang melanda dataran tinggi Kabupaten Mimika, Papua Tengah, memicu bencana tanah longsor susulan…