“Di alam, penyerbukan bisa terjadi secara alami. Sementara di Kebun Raya harus dibantu manusia melalui hand pollination karena bunga jantan dan betinanya tidak masak secara bersamaan,” jelas Dian. Ia menambahkan, durasi mekarnya bunga bangkai raksasa sangat singkat. Karena itu, kesempatan menyaksikannya secara langsung menjadi momen yang sangat berharga.
Pengelola dan peneliti juga mengedukasi masyarakat agar tidak keliru membedakan bunga bangkai raksasa dengan tanaman lain yang kerap disamakan. “Masyarakat perlu membedakan dengan suweg (Amorphophallus paeoniifolius) atau Rafflesia. Meski disebut bunga bangkai raksasa, bunga jantan dan betinanya sebenarnya kecil-kecil dan mengelompok di bagian bawah spadiks yang menjulang tinggi,” terang Dian.
Mekarnya bunga bangkai raksasa kali ini tak hanya spektakuler dari sisi ukuran, tetapi juga bernilai historis. Sebab, koleksi tersebut terakhir kali mekar setelah ‘tertidur’ selama 12 tahun penuh. (she/fir)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Page: 1 2
Prestasi tersebut berdasarkan laporan Eye on the Market yang dikeluarkan oleh JP Morgan Asset Management.…
Salah satunya datang dari studi yang dilakukan oleh Universitas Oxford, yang meninjau berbagai metode berhenti…
Terong Belanda merupakan buah unik dengan bentuk lonjong menyerupai telur dan cita rasa asam yang…
Dikutip Kemenko Pangan, Agenda besar ini merupakan langkah konkret pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan di…
“Jadi itu kan nilai proyek pembangunan fisik, sebenarnya di angka Rp 1,6 miliar anggarannya. Kenapa…
Dalam pidatonya yang disiarkan melalui kanal YouTube Borobudur Hukum Channel, Megawati menyoroti kondisi penegakan hukum…