Categories: NASIONAL

Akui Kalah dari Donald Trump, Tapi Sebut Tak Mau Mengalah dalam Pertarungan

Masih Belum Ada Presiden Perempuan di AS

Sementara itu kemenangan Trump atas Harris mendapat sorotan tajam dari banyak pihak. Termasuk jurnalis AFP Marion Thibaut yang memiliki pandangan berbeda terkait hal itu. Dia menuliskan, bagaimana Trump yang seksisme justru bisa melenggang dengan mudah ke Gedung Putih.

Menurut dia, ini adalah kali kedua dalam delapan tahun terakhir, seorang perempuan berhasil mendapatkan nominasi dari Partai Demokrat untuk menjadi kandidat presiden AS.

Sayangnya, lagi-lagi harus kalah dalam kampanye di mana gender menjadi isu penting. Seperti halnya Hillary Clinton pada 2016, Kamala Harris juga berkesempatan menjadi perempuan pertama yang menduduki Gedung Putih, tapi harus terjungkal di tahap akhir.

Donald Trump dinilainya memainkan peran penting dalam kekalahan bersejarah tersebut. Baik saat melawan Clinton maupun Harris pada Pilpres 2024.

Sebetulnya, kata dia, banyak pengamat yang melihat adanya faktor seksisme pada sosok Trump. Dalam kampanye Trump dan Harris pun banyak yang saling bertentangan, keduanya secara jelas menyajikan visi yang sangat berbeda mengenai status dan hak-hak perempuan.

Trump, yang pernah menghadapi beberapa tuduhan pelecehan seksual meski sudah dibantah, berusaha memproyeksikan citra maskulinitas yang kuat. Dia tampil bersama petarung seni bela diri campuran dan memuji pemimpin dunia yang otoriter. Tak hanya itu, dia dan tim kampanyenya membuat banyak komentar yang kemudian dinilai sebagai ujaran hinaan atau meremehkan perempuan.

Misalnya, Trump menyebut Harris sebagai seorang perempuan “gila” dan “cacat mental”. Dia juga mengklaim bahwa Harris akan menjadi ’’seperti mainan” bagi para pemimpin dunia lainnya jika terpilih menjadi presiden AS.

Pasangannya, senator Ohio J.D. Vance, bahkan melipatgandakan pernyataannya tersebut. Dia pernah menyebut Harris sebagai “wanita tanpa anak yang mengurus negara’’ dengan mengatakan, “Saya tidak ada masalah dengan kucing.”

Sebaliknya, dalam kampanyenya, Harris justru merangkul banyak perempuan seperti dari kalangan selebriti, mulai Beyonce, Jennifer Lopez, Lady Gaga, hingga Oprah Winfrey. Dia berharap mereka dapat membantunya meraih dukungan dari wanita konservatif.

Harris, menurut dia, tidak secara terang-terangan berkampanye berdasar fakta bahwa dia akan menjadi presiden wanita pertama di AS. Akan tetapi, dia secara tegas menjadikan pembelaan terhadap hak-hak perempuan, terutama aborsi, sebagai salah satu landasan kampanyenya. “Namun, tampaknya strategi ini belum cukup menarik perhatian wanita konservatif moderat,” ungkapnya. (mia/c7/bay)

Calon Presiden AS Kamala Harris saat menyampaikan pidato kekalahannya. (USA Today)

Page: 1 2

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Komisi V DPRP Awasi Program Pace Mace GubernurKomisi V DPRP Awasi Program Pace Mace Gubernur

Komisi V DPRP Awasi Program Pace Mace Gubernur

  "Pengawasan tersebut dilakukan agar seluruh program berjalan sesuai sasaran, tepat waktu, dan benar-benar memberikan…

1 day ago

Menanti Magis Paketan Alfredo dan Andri

Ini bukan kali pertama Alfredo dan Andri bekerjasama. Keduanya bahkan sudah sama-sama sudah menjadi pelatih…

1 day ago

BPKAD Pastikan Penataan Aset Kendaraan Makin Tertib

   Kepala BPKAD Kota Jayapura, Desy Wanggai, mengatakan secara umum pengelolaan aset kendaraan di lingkungan…

1 day ago

Ratusan Hektare Sawah Terancam Gagal Panen

Sementara suplay air yang diharapkan dari Sungai Maro belum dapat dilakukan secara optimal dikarena  saluran…

1 day ago

Pelatihan Pencaker Segera Dibuka, OAP Jadi Prioritas

  Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Papua, Jimmy A.Y. Thesia, mengatakan seluruh…

1 day ago

Sebelum Diserahkan SK, Pemkab Jayawijaya Kumpulkan 800 CASN

Bupati Jayawijaya Atenius Murib, SH, MH menyatakan dalam pelaksanaan pengecekan CASN yang berjumlah 800 orang…

1 day ago